• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Kamis, 24 Juli 2014
Tribun Jatim

Komunitas Mercedes Benz W202 Si Tua yang Ciamik

Selasa, 6 November 2012 04:54 WIB
Komunitas Mercedes Benz W202 Si Tua yang Ciamik
TRIBUNJATIM.COM,SURABAYA - Berbagai alasan melatarbelakangi mengapa seseorang membeli sebuah mobil. Bagi anggota Komunitas Mercedes Benz W202, kenyamanan adalah yang diutamakan. Kesan elegan sekaligus modern adalah yang kesekian.

Belasan merek mobil dari berbagai produsen otomotif dunia memenuhi jalanan Kota Surabaya. Di antaranya melaju mobil-mobil tua keluaran perusahaan Mercedes Benz dari Jerman. Salah satunya Mercedes Benz C-Class tipe W202 yang diproduksi sepanjang 1993 hingga 2000.

Mobil sedan itu bertubuh ramping atau compact, cocok dikendarai di perkotaan. Tidak terlalu memakan tempat di jalan raya yang kian padat ini.

”Mercy memang berkesan elegan, meskipun sudah lama diproduksi sampai sekarang masih eksis,” kata Parwita Sari Sh MKn, Ketua Komunitas Mercedes Benz W202.

Parwita memilih Mercy karena mobil ini memang tidak pernah ketinggalan zaman. Ketika dikendarai juga nyaman karena dukungan suspensi mobil yang bagus.
Komunitas pemilik mobil Mercedes Benz (Mercy) dari Surabaya, Sidoarjo, Gresik, serta distrik Malang ini beranggotakan lebih dari 40 orang dengan usia berkisar dari 25 hingga 40 tahun.

Kegiatan komunitas yang rutin diadakan berupa touring yang sekaligus family gathering bersama anggota keluarga ke luar kota seperti Malang, Jogjakarta, Semarang, dan Bali. Atau sesekali berkunjung ke komunitas Mercy tipe lainnya yaitu W210 yang juga biasa disebut New Eyes. Serta bakti sosial dua kali setahun ke panti asuhan menjadi program wajib mereka.

Komunitas Mercy W202 ini juga ada di Jakarta, Bandung, Semarang, Malang, dan Pekalongan. Setiap kota memiliki syarat dan cara tersendiri untuk perekrutan anggota.

Untuk komunitas Mercy W202 di Surabaya dan sekitarnya, calon anggota harus mengikuti dua acara resmi dan satu acara tidak resmi.

”Baru setelah itu mereka dinyatakan menjadi anggota dan menerima seragam,” kata Parwita. Berbeda lagi dengan perekrutan anggota baru di Semarang, calon anggota harus dilarung terlebih dahulu ke laut.

Modifikasi dan Bebas Gangguan

Thomas Aquino Effendi, Sekjen dan Commander komunitas Mercy W202, mengatakan bahwa mobil Mercy itu didesain dengan teknologi yang canggih.

”Sepuluh atau 20 tahun dari tahun produksi kondisinya masih bagus,” tegas Thomas.

Sebagai commander, dia bertugas mengawal konvoi dan berposisi di depan. Thomas sendiri sudah menjabat sebagai commander sejak chief Komunitas Mercy W202 yang pertama, sekitar dua tahun lalu.

Mercy C-Class ini memiliki desain body lebih pendek dari tipe lainnya sehingga sesuai untuk melalui jalanan kota. Pun ketika melintasi tanjakan dan tikungan, mobil ini lincah gerakannya. W202 merupakan salah satu tipe C-Class yang banyak disukai orang Indonesia. Setelah 2000, dikeluarkan produk baru tipe W203 atau mata kacang.

Thomas memilih W202 karena dia harus bekerja di Kediri setiap hari. ”Seorang teman menyarankan saya membeli Mercy W202. Ternyata benar, Mercy W202 paling enak dikendarai,” ungkapnya. Terutama kestabilan sasis yang menjadi keunggulan.
Pernah ada kejadian ketika Thomas menuju Kediri dari Surabaya. Ketika melintasi daerah Kertosono, tiba-tiba ada motor menyeberangi jalan padahal laju mobilnya sedang kencang.

“Saya langsung rem dan banting setir ke sisi kanan dan roda mobil tetap stabil,” jelas Thomas.

Supaya nyaman sepanjang perjalanan, Thomas memodifikasi mobilnya dengan menambah perangkat GPS dan radio komunikasi (rakom) di dalamnya. Termasuk juga pemasangan sun roof milik Mercy tipe C36 yang diimpor dari Malaysia. Separo body mobil dipotong dan diganti dengan body Mercy tipe C36. Modifikasi ini menghabiskan dana Rp 15 juta.

Sementara Arsyila Samsudin, 19, mahasiswi Jurusan Hukum Universitas Surabaya mengendarai Mercy W202 karena mendapat hadiah dari ayahnya sewaktu lulus SMA.
”Mercy memang mobil berusia tua tetapi saya tidak malu. Sebab, mobil ini tetap akan tampak berkelas,” ujar Arsyila.

Selama ini, dia jarang diganggu orang di tengah jalan.

”Orang jadi takut mengendarai kendaraannya dekat dengan Mercy. Sebab, begitu menyerempet, ganti ruginya mahal,” seloroh Arsyila sambil tertawa. Bahan bakarnya juga tidak terlalu boros, sesuai kantong mahasiswa.
Danang Chrisyanto, 57, justru jatuh cinta dengan Mercy lima tahun belakangan.

Sebelumnya, dia selalu menggunakan mobil produksi Jepang.
”Awalnya saya disuruh mencoba oleh seorang teman. Eh sewaktu mencoba itu kok rasanya memang beda,” jelas Danang.

Padahal, mobil Mercy-nya lebih tua dibanding mobil-mobil buatan Jepang yang biasa dipakainya. Mercy W202 miliknya adalah keluaran 1995, tetapi baru dibeli lima tahun lalu.

Semua merasakan kenyamanan mobil Mercy W202 ini. Danang yang suka berpergian ke luar kota sering menempuh kecepatan di atas 100 kilometer per jam. Toh, mobil tetap terasa stabil. Rasa capek yang kerap datang ketika mengendari mobil lain kini hilang. Mercy W202 memang memberi kesan berbeda bagi setiap pemiliknya.



Sumber   : Surya
Reporter : Marta Nurfaidah
Editor: Yoni Iskandar
Komentar

Berita Populer
© 2014 TRIBUNnews.com All Right Reserved l About Us l Privacy Policy l Help l Terms of Use l Redaksi l Info iklan l Contact Us l Lowongan
Atas