Sabtu, 20 Desember 2014
Tribun Jatim
Home » Jatim

Penculikan

Sabtu, 17 Agustus 2013 06:21 WIB

Penculikan
net
Bung Karno

Laporan Wartawan Surya,Yuli

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Sedikit sekali memang catatan sejarah tentang Soekarni. Meski begitu, namanya cukup banyak dikenal.

Sebab sedikit catatan Soekarni itu berhubungan erat lahirnya Proklamasi. Sebuah sejarah terbesar, yang rutin diperingati setiap tahun.

Soekarni yang menjadi murid Soekarno ini bersama kelompoknya adalah pelaku penculikan Soekarno-Hatta. Penculikan dilakukan tanggal 16 Agustus untuk memaksa kedua pimpinan rakyat itu agar mengumumkan proklamasi kemerdekaan.

Hubungan Soekarni dengan Sukarno memang unik, mengalami pasang surut. Soekarni sejatinya adalah murid Soekarno. Soekarni sebagai remaja 14 tahun sudah diarahkan oleh Bu Wardoyo, kakak kandung Bung Karno di Blitar, agar menyusul Sukarno di Bandung.

Saat itu, Sukarno sudah menikahi Inggit Garnasih, janda Haji Sanusi. Soekarni pun tinggal di rumah mereka. Ia tidak hanya diajari jurnalistik tetapi juga politik. Emalia Iragiliati, putri Soekarni, dalam buku Soekarni dan “Actie Rengasdengklok”, menyebut ayahnya memang murid Sukarno.

Kelak, pendidikan jurnalistik dari Sukarno yang aktiv menulis di koran “Fikiran Ra’jat” terbitan Bandung itu memudahkan Soekarni bekerja di Domei, kantor berita resmi Jepang.

Ketegangan hubungan Sukarno-Soekarni mulai terlihat pada malam hari tanggal 15 Agustus 1945. Saat itu, menurut Bung Hatta dalam buku “Bung Hatta’s Answer” terbitan Gunung Agung tahun 1981, dirinya sedang mengetik rancangan mukadimah Konstitusi untuk dicantumkan dalam naskah Proklamasi. Tiba-tiba, ia dijemput oleh Soebardjo yang mengabarkan bahwa Bung Karno diserang para pemuda. Hatta dan Soebardjo pun segera ke rumah Bung Karno.

Hatta melihat Bung Karno sudah dikerubuti banyak pemuda, antara lain Soekarni dan Wikana, tidak ada DN Aidit. “Wikana banyak bicara. Dia mendesak agar Proklamasi dibacakan malam itu juga, 15 Agustus.

"Sukarno menjawab hal itu tidak dapat dilakukan karena besoknya kami (anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) akan rapat,” kenang Bung Hatta.

Ia melanjutkan, Wikana saat itu mengatakan bahwa para pemuda tidak ingin Prokalamasi dibuat oleh PPKI karena itu badan bentukan Jepang.

Saat itu, Hatta mengakui dirinya dan Sukarno-Hatta serta banyak pemimpin lain sejak lama bekerjasama dengan Jepang. Jika demikian, kata Hatta, perlu dicari orang lain untuk membacakan Proklamasi dari orang-orang yang tidak pernah bekerjasama dengan Jepang, Kendati demikian, Wikana tetap menginginkan agar Bung Karno segera membacakan Proklamasi malam itu juga.

Wikana mengancam, jika menjelang pukul 24.00 tengah malam itu Bung Karno tidak membacakan Proklamasi, keesokan harinya akan terjadi banjir darah.

Mendengar hal itu, Bung Karno marah, mendekati Wikana dan mencengkeram lehernya sendiri. “Ini leherku. Kamu tidak perlu menunggu sampai besok. Bunuh aku malam ini juga,” kata Bung Karno seperti diceritakan oleh Bung Hatta.

Apa jawaban Wikana?

Masih menurut Bung Hatta, Wikana mengatakan, “Oh, bukan itu maksud saya. Bung.” Sukarno balik bertanya, “Lalu apa maksudmu?” Wikana pun menerangkan bahwa rakyat dan pemuda akan memberontak jika Proklamasi tidak dibacakan.

Ketegangan itu berlanjut keesokan harinya. Soekarni bersama para pemuda PETA mendatangi rumah Bung Hatta dan memaksa pergi ke luar kota. “Kita akan memerdekakan Indonesia dan melanjutkan pemerintahan dari sana, dari luar kota,” kata Soekarni.

Bung Hatta pun menukas, “Pemerintahan apa? Pemerintahan belum terbentuk, kemerdekaan belum diproklamasikan, masih besok pagi. Pemerintahan apa yang kamu bicarakan.” Tetapi Soekarni tidak peduli karena semua itu sudah jadi keputusan para pemuda.

Penculikan

Selepas makan sahur, 16 Agustus, Hatta digiring Soekarni dan kawan-kawan ke Rengasdengklok. Tepatnya di markas PETA II. Waktu itu PETA di Jakarta memiliki dua markas. Satu di Jakarta dan satu di Rengasdengklok. Markas Rengasdengkol menjadi pilihan. Lokasi yang berada di pinggiran Jakarta, membuat pengawasan dari Jepang sedikit Longgar.

Hatta waktu itu belum menikah. Usianya sudah 43 tahun. Berbeda dengan Hatta, Soekarno yang sudah berkeluarga digiring bersama keluarganya, Fatmawati dan bayinya, Guntur. Hatta beberapa kali kebagian momong. Guntur sempat memberinya pipis saat Hatta memangkunya. Hatta terpaksa tetap mengenakan celana yang kena pipis hingga kering karena tidak membawa ganti.

Tidak ada catatan yang jelas, deal-deal yang dilakukan Soekarno-Hatta dengan kelompok Soekarni. Yang pasti, sore menjelang maghrib, Soekarni dan kawan-kawan mengantarkan kembali Soekarno-Hatta ke Jakarta.

Di tengah jalan, Soekarno terlihat langit Jakarta membara. Soekarni menggertak Bung Karno. Rakyat sudah marah.

Rakyat sudah mulai bakar-bakar karena kemerdekaan tidak segera diumumkan. Soekarno meminta Mang Iding, sopir menghentikan mobil. Soebarjo, yang mengawal diminta mencari informasi. Hasilnya, langit merah itu ternyata cuma para petani membakar jerami. Perjalanan di lanjutkan.

Masuk di Jakarta sudah malam. Rapat PPKI digelar. Anggota PPKI juga sudah diperbanyak. Karena sudah larut, rapat kemudian digelar di rumah Laksamana Maeda, seorang perwira penghubung Jepang, yang pro Republik. Kelompok pemuda Soekarni terus menunggui, hingga lahirnya Makloemat kemerdekaan. Sebelum ditandatangani, kata Maklomat dicoret diganti Proklamasi.

Semula naskah itu hendak ditandatangani semua anggota PPKI. Tapi kelompok pemuda menolak. Mereka khawatir akan muncul klaim, kemerdekaan adalah pemberian Jepang. Sebab pembentukan PPKI difasilitasi Jepang. Para pemuda kemudian ngotot meminta, cukup Soekarno dan Hatta yang tandatangan, atas nama Bangsa Indonesia. Bukan atas nama PPKI.

Esoknya, hari Jumat 17 Agustus, naskah proklamasi di bacakan dalam sebuah upacara bendera yang sederhana di depan rumah Bung Karno, Jl Pengangsaan Timur 56.

Ketegangan antara Sukarno-Soekarni juga terjadi pada 1948 ketika Soekarni dituduh bersama-sama Muhammad Yamin, dll hendak melancarkan kudeta terhadap rezim Sukarno dan kabinet Sjahrir.

Editor: Yoni Iskandar
Sumber: Surya
berita POPULER

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas