• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Kamis, 24 April 2014
Tribun Jatim

Diduga Manipulasi Data, 140 Sekolah Terancam Tak Boleh Ikut SNMPTN

Sabtu, 14 Desember 2013 05:01 WIB
Diduga Manipulasi Data, 140 Sekolah Terancam Tak Boleh Ikut SNMPTN
net
Ilustrasi Unas

Laporan Wartawan Surya, Musahadah

TRIBUNJATIM.COM,SURABAYA - Sebanyak 140 sekolah setingkat SMA terancam tidak bisa mengikuti Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) tahun 2014.
Sekolah-sekolah ini diduga memanipulasi data dan melakukan pungutan ke siswanya saat pelaksanaan SNMPTN tahun 2013.

Modusnya dengan jual beli pasword untuk bisa mendaftar SNMPTN.  

Padahal, biaya SNMPTN sepenuhnya ditanggung oleh pemerintah, sehingga siswa pelamar tidak dikenai biaya seleksi sama sekali.

Humas SNMPTN dari Universitas Airlangga (Unair), Bagus Ani Putra menyatakan, panitia SNMPTN pusat sudah menelusuri dugaan pelanggaran yang dilakukan 140 sekolah tersebut.

140 sekolah ini terhitung se-Indonesia. Sementara untuk Jatim atau bahkan Surabaya, hingga kemarin belum dideteksi. Jika dugaan tersebut benar, dipastikan 140 sekolah tersebut akan dijatuhi sanksi.

"Sanksinya kemungkinan ada dua, 140 sekolah itu tidak bisa mengikuti SNMPTN 2014 atau kepala sekolahnya dipecat," kata Bagus kepada wartawan saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (13/12/2013).

Sanksi itu saat ini masih dibahas oleh panitia pusat SNMPTN. Ada berbagai pertimbangan sebelum sanksi dijatuhkan. Antara lain, jika memang sekolah itu diblacklist, siswa kelas XII di semua sekolah tersebut otomatis tidak bisa mendaftar SNMPTN tahun 2014. Padahal, siswa ini tidak melakukan kesalahan.

"Kasihan siswa kalau tidak bisa mendaftar," ujarnya.

Sementara, sanksi pemecatan kepala sekolah pun bukan menjadi wewenang PTN. Melainkan dinas pendidikan setempat bersama kementerian. "Bila opsi ini yang dipilih, maka siswa-siswa dari 140 sekolah tadi masih diperbolehkan ikut SNMPTN 2014 mendatang,"tegas doktor ilmu psikologi ini.

Agar hal ini tidak terulang di SNMPTN 2014, Bagus mewarning sekolah untuk tidak memalsu data saat mengisi Pangkalan Data Sekolah dan Siswa (PDSS) di SNMPTN 2014.

Dan sebagai langkah prefentif, mulai tahun 2014 peran kepala sekolah dibatasi.
Kasek tak lagi melakukan verifikasi dan juga memegang pasword login ke PDSS. Pasword ini harus dipegang masing-masing siswa.

Selain itu, kasek juga tidak perlu lagi memberikan rekomendasi sebagai tahap terakhir pendaftaran SNMPTN.

Diberitakan sebelumnya, Di SNMPTN kali ini, hanya ada dua tahap yakni pengisian PDSS oleh sekolah lalu diverifikasi siswa. Kemudian masuk proses pendaftaran oleh siswa tanpa ada rekomendasi lagi dari sekolah lagi.

Pada proses pengisian PDSS, kepala sekolah bisa mengisi data sekolah dan siswa melalui laman http://pdss.snmptn.ac.id. Dari sini kasek akan mendapat password setiap siswa yang akan digunakan untuk verifikasi.

Kemudian Siswa melakukan verifikasi data rekam jejak prestasi akademik (nilai raport) dengan menggunakan nilai induk siswa nasional (NISN) dan password yang diberikan kepala sekolah.

”Siswa yang tidak melaksanakan verifikasi maka data rekam jejak prestasi akademik (nilai raport) yang sebelumnya diisikan kasek dianggap benar dan tidak dapat diubah setelah waktu verifikasi berakhir,” terang Kepala Humas SNMPTN dari Unesa Suyatno.

Sementara untuk proses pendaftaran, siswa pelamar dengan menggunakan NISN dan password langsung login ke laman SNMPTN. Mereka bisa mengisi biodata, pilihan program studi serta mengunbah pas foto resmi terbaru dan dokumen prestasi akademik jika ada.

Khusus pelamar program studi keolahragaan dan seni harus mengunggah portofolio atau dokumen bukti keterampilan yang diisi oleh  kepala sekolah dan atau siswa menggunakan pedoman yang dapat diundah pada laman.

Setelah itu siswa pelamar bisa mencetak kartu bukti pendaftaran sebagai tanda bukti peserta SNMPTN tanpa harus minta rekomendai lagi kepala sekolah.

Rekomendasi ini dihilangkan karena pengalaman SNMPTN sebelumnya banyak kasek yang intervensi siswanya untuk memilihj jurusan tertentu, sehingga tidak sesuai kemauan siswa.

Selain itu, banyak juga sekolah yang tidak merekomendasikan siswanya, padahal siswa yang bersangkutan sangat bersemangat mengikuti SNMPTN.

Hal itu disebabkan karena keterbatasan pengetahuan kasek tentang teknologi komputer atau internet.

”Sebelumnya banyak sekali yang gagal ikut SNMPTN karena tidak ada rekomendasi kasek. Karena itu dihilangkan saja untuk mempermudah siswa,”ujarnya.

Editor: Yoni Iskandar
Sumber: Surya
Komentar

Berita Populer
© 2014 TRIBUNnews.com All Right Reserved l About Us l Privacy Policy l Help l Terms of Use l Redaksi l Info iklan l Contact Us l Lowongan
Atas