Menkes Buka Bakti Kesehatan Pendengaran dan Mata di PP Tebuireng, Bersihkan Telinga 5.000 Santri

Menteri Kesehatan (Menkes) RI, dr Nila Juwita Moeloek, menuturkan, prevalensi ketulian di Indonesia, diperkirakan 4,5 persen (11,5 juta) dengan penye

Menkes Buka Bakti Kesehatan Pendengaran dan Mata di PP Tebuireng, Bersihkan Telinga 5.000 Santri
Tribunjatim/Sutono
Menkes dr Nila Juwita Moeloek didampingi Wabup Mundjidah Wahab menabuh gong, membuka Bakti Kesehatan Telinga, Pendengaran dan Mata di Ponpes Tebuireng, Jombang, Jatim. 

Laporan Wartawan Surya, Sutono

TRIBUNJATIM.COM, JOMBANG - Menteri Kesehatan (Menkes) RI, dr Nila Juwita Moeloek menuturkan, prevalensi ketulian di Indonesia, diperkirakan 4,5 persen (11,5 juta) dengan penyebab penyakit telinga 18,5 persen, gangguan pendengaran 16,8 persen, dan tuli berat 0,4 persen.

“Angka ini yang tertinggi terjadi pada usia 7 tahun hingga 18 tahun atau pada anak SD, SMP, dan SMA,” terang Menkes Nila Juwita di Pondok Pesantren ( Ponpes)  Tebuireng Jombang, Jatim kepada TribunJatim.com, Sabtu (11/3/2017).

Pernyataan itu sendiri disampaikan saat membuka Bakti Kesehatan Telinga, Pendengaran dan Mata di Ponpes Tebuireng, Jombang, Jatim, yang digagas Perhimpunan Dokter Spesialis THT Bedah Tenggorok Indonesia (Perhati KL), Sabtu (11/3/2017).

Prevalensi merupakan jumlah keseluruhan kasus penyakit yang terjadi pada suatu waktu tertentu di suatu wilayah.

“Secara persentase mungkin kecil, tapi ini tidak bisa dianggap enteng karena pendengaran merupakan indra yang vital,” kata dr Nila Juwita Moeloek.

Baca: Soal Kasus Ginjal Sri yang Dicuri Majikan, Kemenkes Diminta Audit Hasil Tes Kesehatannya

Menurut Menkes, hasil Riskesdas 2013 menunjukkan 2,6 persen penduduk Indonesia usia 5 tahun mengalami gangguan pendengaran. Rinciannya 0,09 persen ketulian, 18,8 persen serumen prop (gumpalan kotoran pada telinga yang mengeras), dan 2,4 persen sekret (cairan) liang telinga.

“Di Kabupaten Jombang, prevalensi serumen bilateral pada anak usia 6-12 tahun tergolong masih cukup tinggi yaitu 14 persen” tandas Menkes dr Nila Juwita Moeloek.

Di depan para santri dan undangan menkes berharap kegiatan Bakti Kesehatan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, khususnya para calon santri, santri dan masyarakat Kabupaten Jombang.

Ketua Umum Pengurus Pusat Perhati KL Soekirman Soekin menuturkan, kegiatan melibatkan 200 dokter spesialis THT dan mata yang datang dari berbagai daerah.

"Dalam tiga hari ke depan, tim akan melakukan kegiatan bersih-bersih telinga (BBT) bagi 5.000 santri," ujar Soekirman.

Selain BBT, Persatuan Dokter Mata Indonesia (Perdami) juga akan melakukan operasi katarak bagi 30 pasien. "Kami berterima kasih atas dukungan kolega dari Perdami yang turut bergabung dan meramaikan bakti kesehatan nasional ini," imbuhnya.

Gus Sholah menyampaikan terima kasih atas dipilihnya Ponpes Tebuireng sebagai tuan rumah bakti kesehatan nasional ini. Gus Sholah mengungkapkan peran pesantren dalam pembangunan bidang kesehatan, termasuk dalam kampanye KB dan larangan merokok.

Tampak hadir dalam kunjungan Menkes, Kepala Dinas Kesehatan Jawa Timur Kohar Hari Santoso, Wabup Jombang Mundjidah Wahab dan mantan Kepala Dokter Kepresidenan dr Umar Wahid. Selain itu juga jajaran direksi BPJS Kesehatan dan Direktur RSUD Jombang Pudji Umbaran.

Penulis: Sutono
Editor: YONY iSKANDAR
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help