TribunJatim/

Nelayan Sepudi Tangkap Dua Kapal Nelayan Probolinggo, Gara-garanya ini

Sejumlah nelayan Desa Talaga, Kecamatan Nonggunung, pulau Sepudi, Sumenep Madura, terpaksa menangkap dua kapal nelayan asal Probolinggo, Jawa Timur, k

Nelayan Sepudi Tangkap Dua Kapal Nelayan Probolinggo, Gara-garanya ini
Tribun Timur
Ilustrasi nelayan 

 Laporan Kontributor Surya, Mohammad Rifai

 

TRIBUNJATIM.COM, SUMENEP - Sejumlah nelayan Desa Talaga, Kecamatan Nonggunung, pulau Sepudi, Sumenep Madura, terpaksa menangkap dua kapal nelayan asal Probolinggo, Jawa Timur, karena kedapatan menangkap ikan di perairan terlarang di wilayah setempat, Kamis (16/3/2017).

Dua kapal nelayan jenis Double Gardan tersebut yakni KM Indah Jaya II dan KM Sapu Jagad dengan seluruh anak buah kapal yang berjumlah 18 orang.
Mereka kemudian dilepas setelah menandatangani surat perjanjian untuk tidak mengulangi perbuatannya menjaring ikan dnegan menggunakan alat tangkap canggih double gardan di perairan tersebut yang selama ini hanya diperbolehkan untuk nelayan dengan sampan kecil dan alat tangkap sederhana.

Ditangkapnya dua kapal asal Probolinggo itu berawal dadi informasi salah seorang anggota kelompok Masyarakat (Pokmaswas) Sapo’angin, Ali Muhni yang kebetulan saat itu sedang menagkap ikan di perairan tersebut. Bersamaan dengan itu, Ali Muhni melihat dua kapal nelayan yang melintas.

"Semua saya mengira dua kapal nelayan itu hanya melintas saja. Namun setelah diteliti, ternyata dua kapal penangkap ikan itu sedang menjaring ikan dengan troll atau jenis pukat harimau di kawasan terlarang," ujar Ali Muhni, Kamis (16/3/2017).

Baca: Lima Nelayan Situbondo Ini Ditangkap Sesama Nelayan, Ini Masalahnya

Atas temuan itu, Ali Muhni lalu menginformasikan ke nelayan lainnya, sehingga lalu bersama-sama mendatang dua kapal tersebut.

Lalu puluhan nelayan menggiring dua kapal tersebut le pantai desa setempat. Dan dimintai pertanggungjawabannya atau kegiatan terlaranya.

"Mereka mengaku bersalah telah menangkap ikan di kawasan yang selama ini kita lindungi, karena kawasan tersebut selama ini sebagai kawasan nelayan yang menangkap ikan dengan menggunakan alat tangkap tradisional," jelasnya kepada TribunJatim.com .

Dikatakan, nelayan Probolinggo mengaku tidak mengetahui kalau perairan tersebut merupakan kawasan terlarang untuk kapal nelayan dengan alat tangkap menggunakan troll atau pukat harimau.

Sehingga kemudian, atas kesepakatan kedua belah pihak untuk membuat kesepakatan, bahwa kedua kapal nelayan tersebut tidak akan mengulangi perbuatannya menangkap ikan di perairan desa setempat.

"Bukan kami menolak nelayan menangkap ikan disini, tapi karena kawasan itu selama ini menjadi sumber kehidupan nelayan disini, maka tentu kami harus menjaga itu, agar tidak punah," pungkasnya.

Editor: Yoni Iskandar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help