Ratusan Umat Hindu Rayakan Upacara Melasti di Jolotundo Trawas

Ratusan umat Hindu dari Mojokerto, Gresik dan Bali, merayakan upacara Melasti Tahun Baru Caka 1939 di Petirtaan Jolotundo, Desa Seloliman, Kecamatan T

Ratusan Umat Hindu Rayakan Upacara Melasti di Jolotundo Trawas
TribunJatim/ Rorry Nurmawati
Ratusan umat Hindu dari Mojokerto, Gresik dan Bali, merayakan upacara Melasti Tahun Baru Caka 1939 di Petirtaan Jolotundo, Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Minggu (19/3/2017). 

TRIBUNJATIM.COM, MOJOKERTO - Ratusan umat Hindu dari Mojokerto, Gresik dan Bali, merayakan upacara Melasti Tahun Baru Caka 1939 di Petirtaan Jolotundo, Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Minggu (19/3/2017).

Ritual ini merupakan rangkaian Hari Raya Nyepi yang bertujuan untuk menyucikan diri sebelum melaksanakan Nyepi pada 28 Maret mendatang.

Dengan menggunakan pakaian adat tradisional, ratusan umat Hindu mengikuti jalannya upacara dengan khidmat dan tenang.

Diiringi tetabuhan musik, prosesi upacara diawali dengan arak-arakan yang dimulai dari gerbang masuk menuju Petirtaan Jolotundo.

Di sini umat Hindu berjalan sekitar satu kilometer dengan membawa sesajian menuju petirtaan.

Baca: Awas, Jalur ke Wisata Trawas dan Pecet Ditutup Akibat Longsor

Altar utama pun ditempatkan di tengah candi. Ratusan rohaniwan termasuk pemangku adat, bergantian memandu ritual upacara Melasti yang diawali puja bakti kepada Sang Pencipta. Terlihat para umat Hindu larut dalam ritual panjang menyongsong catur brata penyepian.

"Melasti ini merupakan menyucikan jagat raya dan menyucikan diri manusia sebelum memasuki Hari Nyepi. Harapannya segala sifat buruk dihancurkan dan kembali suci," kata Sekretaris Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Mojokerto I Wayan Sudana kepada TribunJatim.com .

Dipilihnya Petirtaan Jolotundo sebagai pelaksana Upacara Melasti lanjut I Wayan Sudana, karena memiliki sejarah yang kuat dan atmosfir spiritual yang kental. Karena dahulu Petirtaan Jolotundo merupakan tempat pertapaan Airlangga.

Candi penghasil air mineral terbaik ini yang dibuat pada zaman Airlangga, merupakan masa Kerajaan Kahuripan.

Airlangga merupakan anak dari Raja Udayana yang berasal dari Bali, yang kemudian menikah dengan Putri Guna Priya Dharma dari Jawa. Candi ini merupakan monumen cinta kasih Raja Udayana untuk menyambut kelahiran anaknya, Prabu Airlangga, yang dibangun 997 Masehi.

"Kenapa di sini, karena di sini penghasil sumber air terbaik. Penyucian boleh dilakukan di laut, atau sumber mata air. Karena sumber air merupakan penghasil kekuatan," terang Sudana.

Sudana berharap dengan digelarnya upacara Melasti, diharapkan kehidupan bisa berlangsung aman, nyaman dan damai bagi semua umat. Sesuai dengan tema Hari Raya Nyepi mendatang, mewujudkan bhineka tunggal Ika sehingga menjaga keutuhan NKRI.

"Kami ingin mewujudkan umat yang bertoleransi demi menjaga keutuhan NKRI," tegasnya. (Surya/Rorry Nurmawati)

Penulis: Rorry Nurmawati
Editor: YONY iSKANDAR
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help