TribunJatim/

Pro Kontra Keberadaan Pabrik Semen Rembang, Ini Sikap Mahasiswa

Polemik keberadaan pabrik semen di Rembang milik PT Semen Indonesia (Persero) Tbk akhirnya memantik kalangan mahasiswa bersuara.

Pro Kontra Keberadaan Pabrik Semen Rembang, Ini Sikap Mahasiswa
KONTAN
Ilustrasi produk pabrik semen milik BUMN. 

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA – Polemik keberadaan pabrik semen di Rembang milik PT Semen Indonesia (Persero) Tbk akhirnya memantik kalangan mahasiswa bersuara.

Mahasiswa yang mengaku tergabung dalam Jaringan Pemuda dan Mahasiswa Nusantara (JPMN) menuntut pemerintah pusat segera meresmikan beroperasinya pabrik semen di Rembang yang notabene milik BUMN tersebut.

Hal itu dinilai penting, seiring dengan makin banyaknya pabrik semen asing yang mulai beroperasi di Indonesia. Sementara pabrik semen asing milik Heidelberg tahun ini rencananya juga akan membangun pabriknya di Pati.

“Apalagi, aksi terus-menerus menolak beroperasinya pabrik semen di Rembang hanya dilakukan oleh sekelompok orang tertentu," tegas Ketua JPMN, Ahmad Fikri, dalam siaran tertulis yang diterima TribunJatim.com, Senin (20/3/2017) malam.

Padahal Gubernur Jawa Tengah, kata Fikri telah mengeluarkan izin lingkungan pada pertengahan Februari 2017, setelah PT Semen Indonesia melengkapi berbagai kelengkapan Amdal sesuai keputusan MA.

Sehingga, segera beroperasinya pabrik semen di Rembang menjadi sangat penting mengingat tak ada lagi dampak negatif terhadap lingkungan seperti yang dikhawatirkan pihak tertentu.

"Upaya demo menolak semen Rembang yang dilakukan pihak tertentu sangat tercium aroma politis, mengingat argumen yang mereka jadikan pembenar sudah tak lagi memiliki dasar yang kuat," tegasnya.

Menurut Fikri, ada empat alasan sehingga pemerintah pusat harus memberi dukungan terhadap beroperasinya pabrik semen di Rembang milik PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. 

Pertama, keberadaan pabrik semen Rembang bakal memicu bergulirnya perekonomian masyarakat di lingkungan sekitar pabrik.

Kedua, pemerintahan Presiden Jokowi sedang fokus membangun infrastruktur yang memerlukan semen.

Ketiga, nilai investasi sekitar Rp 4,9 triliun yang sudah terlanjur dikeluarkan pemerintah untuk membangun pabrik semen Rembang. Jika pabrik semen Rembang dengan kapasitas 3 ton per tahun ini gagal beroperasi, bakal mencoreng iklim investasi di Indonesia.

Keempat, PT Semen Indonesia (Persero) Tbk yang merupakan perusahaan BUMN harus didukung semua pihak agar sanggup bersaing dengan perusahaan-perusahaan semen asing yang mulai ekspansi di Pulau Jawa.

"Makanya, kami menuntut agar pemerintah Indonesia mendukung penuh beroperasinya pabrik semen di Rembang tersebut," pungkas Fikri. 

Penulis: Mujib Anwar
Editor: Mujib Anwar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help