TribunJatim/

Puluhan Warga Kalidawir Tulungagung Pertanyakan Penanganan Kasus Pemerkosaan F

Sekurangnya 30 orang mendatangi Mapolres Tulungagung, Rabu (17/5/2017) siang. Mereka mempertanyakan proses hukum terhadap pemerkosa F (11) yang dinila

Puluhan Warga Kalidawir Tulungagung Pertanyakan Penanganan Kasus Pemerkosaan F
Surya/David Yohanes
Perwakilan warga dan keluarga F, berdialog dengan penyidik UPPA Polres Tulungagung. 

 TRIBUNJATIM.COM, TULUNGAGUNG - Sekurangnya 30 orang mendatangi Mapolres Tulungagung, Rabu (17/5/2017) siang. Mereka mempertanyakan proses hukum terhadap pemerkosa F (11) yang dinilai lamban.

Warga yang datang adalah para tetangga F di Kecamatan Kalidawir. Kedatangan warga jumlah besar ini sempat mengejutkan petugas jaga. Sebab sebelumnya memang tidak ada izin unjuk rasa.

Namun dengan alasan hanya dialog, perwakilan warga diperbolehkan lima orang perwakilan masuk ke Mapolres Tulungagung. Lima perwakilan ini segera menuju ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPPA). Mereka ditemui oleh Kaur Bins Ops (KBO) Satreskrim Polres Tulungaung, Iptu Hery Poerwanto dan dua polwan penyidik UPPA.

“Tadi warga sempat berkumpul di balai desa mempertanyakan kasus pencabulan ini. Mereka kemudian sepakat datang ke Polres Tulungagung,” ucap pendamping keluarga F, Catur Subagyo yang memimpin rombongan.

Perwakilan pihak keluarga, Sukemi (54) menilai proses hukum pemerkosa F sangat lamban. Sebab sebelumnya sudah ada hasil visum. Tim dokter yang menangani F juga menyatakan, ada sperma milik pelaku yang tertinggal di kemaluan F.

“Barang bukti sudah cukup, korban juga sudah menyebut nama pelaku. Terus yang kurang apa lagi?” ucap Sukemi.

Pertemuan berlangsung sekitar 30 menit. KBO Reskrim, Iptu Hery Poerwanto mengatakan, proses hukum masih berjalan. Saat ini penyidik baru mendapatkan satu alat bukti, yaitu hasil visum dari rumah sakit. Sementara keterangan korban yang menyebut nama pelaku belum bisa dijadikan alat bukti.

“Kami sudah meminta keterangan beberapa orang yang disebut oleh korban. Namun kami belum minta keterangan pihak pondok,” ucap Hery.

Kasus yang menimpa F bermula saat santriwati sebuah pondok pesantren di Kecamatan Ngunut ini mengeluh tidak bisa buang air kecil. F juga mengeluh kesakitan, terutama pada bagian punggung dan kemaluan. Saat dibawa ke Puskesmas Kalidawir, F langsung dirujuk ke RSUD dr Iskak.

Baca: Guru Honorer Nyambi Konsumsi Narkoba, Begini Akibatnya

Saat pertama memeriksa F, tim medis RSUD dr Iskak langsung menyarankan pihak keluarga melapor ke polisi. Sebab F diduga menjadi korban pemerkosaan. Kepada Catur Subagyo, F mengaku telah diperkosa oleh guru kelasnya di pondok, dengan inisial U.

Selain itu, F juga kerap mengalami kekerasan seksual yang dilakukan tiga siswa, kakak kelasnya di pondok yang sama. Dua orang pelaku memegangi tangan F agar tidak berontak, sedangkan satu pelaku melecehkan F. Akibatnya alat vital F mengalami infeksi. (Surya/David Yohanes)

Penulis: David Yohanes
Editor: YONY iSKANDAR
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help