TribunJatim/

Warga Ngotot PT Merak Jaya Beton di Kediri Ditutup

Warga tetap bersikukuh menuntut pabrik pengolahan bahan cor milik PT Merak Jaya Beton yang berlokasi di Dusun Grompol, Desa Ngebrak, Kecamatan Gampeng

Warga Ngotot PT Merak Jaya Beton di Kediri Ditutup
TribunJatim/Mohammad Romadoni
Suasana warga saat berunjuk rasa menuntut pabrik tersebut agar ditutup. 

 TRIBUNJATIM.COM, KEDIRI - Warga tetap bersikukuh menuntut pabrik pengolahan bahan cor milik PT Merak Jaya Beton yang berlokasi di Dusun Grompol, Desa Ngebrak, Kecamatan Gampengrejo, Kabupaten Kediri agar secepatnya ditutup.

Sebab, sebagian besar warga yang bermukim di sekitar lokasi mengaku sangat terganggu dengan adanya aktifitas di pabrik tersebut.

"Sudah tidak ada toleransi lagi, kami minta pabrik itu untuk ditutup," tegas seorang warga bernama Dasiran (62), Rabu (17/5/2017).

Dasiran yang memiliki bangunan warung makan berada di sebelah kanan persis di samping pabrik tersebut meminta Pemerintahan Kabupaten Kediri dan aparat desa agar benar-benar menampung aspirasi mereka.

"Pabrik ini menimbulkan polusi dan mencemari lingkungan. Intinya kami bersama warga telah sepakat meminta agar pabrik tersebut segera ditutup ," ungkapnya.

Dia menjelaskan pihaknya menjadi korban terparah akibat bocornya tangki pengolahan bahan cor. Ia sangat menyayangkan pemilik pabrik tak bertanggung jawab dan mengabaikan nasib mereka.

Dijelaskannya, saat kejadian bocornya tangki sekitar pukul 09.00 WIB, Selasa (16/5/2017) material semen berasal dari pabrik tertiup angin ke arah utara dan mengenai bangunan warungnya. Material semen itu memenuhi bahkan menutupi seluruh atap warung miliknya.

"Sampai saat ini belum ada ganti rugi. Saya nggak tahu ini diganti rugi apa tidak," imbuhnya.

Menurut dia, sebenarnya pihaknya bersama warga setempat sudah memprotes keras berdirinya pabrik itu. Namun dia tidak tahu persis tiba-tiba banguanan pabrik sudah berdiri dan mulai beroperasi.

"Sejak awal kami sudah menolak adanya pabrik ini tapi saya tidak paham kok bisa lolos ijin pendirian pabrik. Padahal, pabrik itu jaraknya sangat dekat dengan pemukiman," bebernya.

Baca: Jelang Puasa, Ini Menu Sahur Praktis Ala Anak Kos, Nomor 5 Adalah Pilihan Akhir Saat Terdesak

Gara-gara peristiwa ini Dasiran terpaksa menutup warungnya dan tidak memperoleh penghasilan sama sekali.
"Ya jelas rugi soalnya nggak jualan. Tadi cuma bersih-bersih atap warung," tukasnya.

Terpisah, seorang warga tinggal di RT2 RW1 bernama Emi (50) mengaku menjadi korban kebocoran tangki tersebut. Akibat polusi yang ditimbulkan ia menderita sakit pernasan yang hingga kini belum sembuh.

"Kena debunya sampai batuk-batuk. Sudah berobat ke rumah sakit dan puskesmas tapi tidak kunjung sembuh," keluhnya.(Surya/Mohammad Romadoni)

Penulis: Mohammad Romadoni
Editor: YONY iSKANDAR
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help