TribunJatim/

Sehari Dapat Rp 50 Ribu, Kakek Penjual Mainan ‘Jadul’ Tak Lelah Bersyukur, Prinsipnya Bikin Terharu

Wiyoto (62), penjual mainan tradisional tak henti-hentinya bersyukur meski penghasilannya tak seberapa. Bahkan, ia punya prinsip hidup yang luar biasa

Sehari Dapat Rp 50 Ribu, Kakek Penjual Mainan ‘Jadul’ Tak Lelah Bersyukur, Prinsipnya Bikin Terharu
TRIBUNJATIM.COM/MANIK PRIYO PRABOWO
Memutar mainan tradisional gasing sembari duduk di trotoar Jalan Gayung Sari Barat, Surabaya, Wiyoto (62) mencoba menarik perhatian pengguna jalan supaya membeli dagangannya, Selasa (20/6/2017). 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Manik Priyo Prabowo

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Memutar mainan tradisional gasing sembari duduk di trotoar Jalan Gayung Sari Barat, Surabaya, Wiyoto (62) mencoba menarik perhatian pengguna jalan supaya membeli dagangannya.

Berbekal lima jenis mainan tradisional berbahan bambu, kakek tiga cucu ini ternyata sudah 50 tahun jualan mainan khas Indonesia.

"Dari dulu saya jualan keliling. Sehari bisa berjalan sampai 30 kilometer mungkin. Soalnya jualan jalan terus gitu aja," ujar Wiyoto kepada TribunJatim.com, Selasa (20/6/2017).

Di tengah terik matahari, pengrajin sekaligus penjual mainan seperti gasing, peluit burung, dan miniatur hewan dari serabut kelapa ini tak hentinya berusaha memenuhi kebutuhan keluarganya.

Baca: Edan! Pria Ini Mudik Berjalan Kaki Tempuh Ratusan Kilometer dari Rawamangun-Indramayu, Tapi . . .

Memutar mainan tradisional gasing sembari duduk di trotoar Jalan Gayung Sari Barat, Surabaya, Wiyoto (62) mencoba menarik perhatian pengguna jalan supaya membeli dagangannya, Selasa (20/6/2017).
Memutar mainan tradisional gasing sembari duduk di trotoar Jalan Gayung Sari Barat, Surabaya, Wiyoto (62) mencoba menarik perhatian pengguna jalan supaya membeli dagangannya, Selasa (20/6/2017). (TRIBUNJATIM.COM/MANIK PRIYO PRABOWO)

Meski tak berpenghasilan banyak, Wiyoto juga memiliki prinsip yang patut diacungi jempol.

Meski tak pernah mengenyam bangku pendidikan, kakek asal Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta ini memiliki prinsip enggan mengemis.

Malahan, beberapa pengemis ia tawari supaya berjualan barang dagangannya di tempat keramaian.

"Saya terus berusaha dan jangan sampai mengemis. Kalau ada pengemis, saya tawari mau jualan pasti akan saya bantu," ungkapnya.

Halaman
123
Penulis: Manik Priyo Prabowo
Editor: Agustina Widyastuti
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help