TribunJatim/

Gara-gara Jilbab, Bupati Banyuwangi Batalkan Aturan Diskiriminatif di SMPN 3 Genteng Banyuwangi

Dinas Pendidikan (Dispendik) Banyuwangi mendapat laporan mengejutkan dari orangtua calon siswi di SMPN 3 Genteng Banyuwangi. Seorang anak non muslim

Gara-gara Jilbab, Bupati Banyuwangi Batalkan Aturan Diskiriminatif di SMPN 3 Genteng Banyuwangi
Surya/Haorrahman
Orangtua Yenima, Timptius Purnoribowo saat bertemu Bupati Banyuwangi 

 TRIBUNJATIM.COM, BANYUWANGI - Dinas Pendidikan (Dispendik) Banyuwangi mendapat laporan mengejutkan dari orangtua calon siswi di SMPN 3 Genteng Banyuwangi.  Seorang anak non muslim berinisial NWA, yang diterima di sekolah tersebut diwajibkan harus mengenakan jilbab.

Aturan yang diberlakukan di sekolah ini membuat orangtua anak tersebut, tidak terima dan melaporkan kejadian ini ke Dispendik Banyuwangi.

Berdasarkan laporan pada Dispendik, seorang anak warga Dusun Maron, Desa Genteng Kulon, Genteng, diterima di SMPN 3 Genteng Banyuwangi.

Saat hendak mendaftar ulang, orangtua siswa diberitahu oleh panitia PPDB SMPN 3 Genteng, bahwa sekolah tersebut tidak menerima siswa non muslim. Jikapun tetap ingin bersekolah di sekolah tersebut, NWA harus mengenakan jilbab dan mengikuti kegiatan keagamaan.

Aturan tersebut langsung membuat orangtua protes, dan melaporkan kejadian itu pada Dispendik.

Mendapat laporan tersebut, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas langsung meminta Kepala Dispendik Banyuwangi, Sulihtiyono, untuk membatalkan aturan itu.

Setelah ditelusuri ternyata, aturan itu merupakan inisiatif dari pimpinan SMPN 3 Genteng sendiri.‎

Baca: Aturan Sekolah Pakai Jilbab, Orangtua Yenima Ambil Hikmah Atas Kejadian Ini

Aturan itu menurut Abdullah Azwar Anas diterapkan secara serampangan karena tanpa melihat latar belakang agama siswa, sehingga berpotensi mendiskriminasi pelajar beragama selain Islam.

”Saya dapat informasi itu kaget sekali. Saya telepon Pak Sulihtiyono (kepala dinas pendidikan), dan minta itu dicek. Ternyata itu aturan inisiatif pimpinan sekolahnya. Terus terang saya kecewa. Kita ini pontang-panting jaga kerukunan umat, kok masih ada paradigma seperti ini. Kalau berjilbab untuk pelajar muslim kan tidak masalah, tapi ini diterapkan secara menggeneralisasi tanpa melihat latar belakang agama pelajarnya. Saya sudah minta batalkan aturan itu. Batalkan detik ini juga,” tegas Abdullah Azwar Anas, Minggu (16/7/2017).

Halaman
12
Penulis: Haorrahman
Editor: YONY iSKANDAR
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help