TribunJatim/

Umat Budda Lepaskan Ikan dan Burung di Wilayah Wiringinanom Gresik

Lembaga Swadaya Masyarakat Ecological Observation and Wetlands Conservation (LSM) Ecoton) atau Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah bers

Umat Budda Lepaskan Ikan dan Burung di Wilayah Wiringinanom Gresik
Surya/Sugiyono
Umat Buddhis bersama LSM Ecoton melepas ikan di Kali Brantas dan melepaskan burung ke alam bebas, Minggu (13/8/2017). 

 TRIBUNJATIM.COM, GRESIK – Lembaga Swadaya Masyarakat Ecological Observation and Wetlands Conservation (LSM) Ecoton) atau Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah bersama umat Buddhis dari komunitas Yi Xin Tang melepaskan sebanyak 50.000 Ikan asli Kali Brantas dan 1.000 ekor burung di Wringinanom Gresik.

Belasan umat Buddhis yang dipimpin Master Yao Guang melepaskan ikan dan burung tersebut bertujuan menebarkan welas asih (kasih sayang) dengan melepaskan satwa.
Kegiatan yang diberi nama fangsheng ini bertujuan untuk konservasi sungai di Wringinanom-Gresik.

Komunitas Yi Xin Tang yang berasal dari Shanghai ini melakukan kegiatan fangsheng atau ritual pelepasan satwa ke alam bebas. Ikan yang dilepas sengaja dibeli di pasar-pasar ikan, dimana ikan hendak disembelih atau dijadikan santapan.

“Kegiatan fangsheng lebih bermakna jika pelepasan ikan dilakukan dengan membebaskan ikan yang sedang terancam bahaya. Kegiatan fangsheng memiliki makna ganda, selaian menanamkan welas asih fangsheng juga membantu kegiatan konservasi atau perlindungan habitat,” kata Afrianto Rahmawan koordinator fangsheng di Kawasan suaka ikan Wringinanom, Minggu (13/8/2017).

Lokasi fangsheng dikawasan suaka ikan Wringinanom. Jenis ikan yang dilepas ada ikan wader sebanyak 10.000 ekor, ikan khutuk 2.000 ekor dan belut seberat 5 kuintal dan 1.000 ekor burung peking.

Afrianto Rahmawan menambahkan, kegiatan fangsheng di Wringinanom hanya diperkenankan untuk satwa asli brantas seperti Kuthuk, wader, bader dan bulus sebaliknya melarang pelepasan ikan yang bukan asli kali brantas seperti nila, lele dan tombro.

“Fangsheng yang baik itu mempertimbangkan aspek konservasi lokal yaitu melepaskan ikan lokal bukan ikan invasif atau ikan yang berasal dari luar nusantara. Alih-alih untuk perlindungan habitat ikan jenis invasif seperi nila akan mengalahkan jenis ikan asli di kali Brantas,” imbuhnya.

Kegiatan fangsheng ini membantu agar praktik meditasi dapat berhasil, mengandung nilai welas buddisme yang memiliki makna cinta kasih atau kebajikan kepada semua ummat.

“Fangsheng adalah pelaksanaan bodhisattva sila dengan cara melepaskan hewan-hewan yang tertangkap untuk dibebaskan di alam,” kata Supriyadi (45), salah satu budayawan asal Bojonegoro yang memiliki perhatian kepada kegiatan fangsheng yang selaras dengan upaya-upaya konservasi. (Surya/Sugiyono).

Penulis: Sugiyono
Editor: YONY iSKANDAR
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help