TribunJatim/
Home »

Jatim

Woww, Sensasi Wisata Paralayang Gunung Pegat Blitar, Ini Tarifnya Sekali Melayang

Lolita Puspa (27) tertawa lepas begitu berhasil mendarat dengan selamat di areal persawahan di Desa Pojok, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar, Mingg

Woww, Sensasi Wisata Paralayang Gunung Pegat Blitar, Ini Tarifnya Sekali Melayang
Surya/ Samsul Hadi
Peserta paralayang berhasil take off dari Gunung Pegat dan hendak landing di areal persawahan di Desa Pojok, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar, Minggu (13/8). 

 TRIBUNJATIM.COM, BLITAR - Lolita Puspa (27) tertawa lepas begitu berhasil mendarat dengan selamat di areal persawahan di Desa Pojok, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar, Minggu (13/8/2017).

Meski sempat merasakan mual-mual, Lolita mengaku puas bisa melihat pemandangan dari atas dengan naik paralayang.

“Saya baru pertama kali naik paralayang. Rasanya puas bisa melihat pemandangan dari atas,” kata gadis berambut lurus panjang itu.

Lolita merupakan satu dari sejumlah peserta yang ikut mencoba terbang dengan paralayang di tempat wisata baru Blitar Aero Sport di Gunung Pegat, Desa Kawedusan, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar. Wisata paralayang itu pertama di Blitar dan baru diresmikan Minggu (13/8/2017).

Dalam peresmian itu, pengelola mengundang 23 atlet paralayan untuk terbang di lokasi. Warga yang ingin merasakan sensasi paralayang juga dipersilakan terbang bersama pilot yang sudah disiapkan panitia. Seperti yang dilakukan Lolita. Ia terbang dengan didampingi pilot.

Menurut Lolita, olahraga paralayang di Gunung Pegat tergolong ekstrem. Untuk menuju puncak Gunung Pegat sebagai tempat take off, peserta harus jalan kaki sekitar 30 menit. Setelah dari atas, peserta menunggu hembusan angin yang tepat untuk terbang.

“Sensasinya di situ. Peserta harus susah payah naik gunung dulu untuk terbang. Tapi begitu berhasil terbang rasa lelah naik gunung terbayar sudah dengan melihat pemandangan dari atas,” ujar Lolita.

Hal sama diungkapkan atlet paralayang dari Malang, Agusrian Akbar (24). Menurut Agus, lokasi paralayang di Gunung Pegat memang ekstrem. Baik di tempat tak off maupun di tempat landing. Tempat take off lumayan sempit dan tempat landingnya berada di areal persawahan. Belum lagi, angin di lokasi juga tidak stabil.

“Saya tadi juga tidak yakin bisa landing di tempat yang sudah disiapkan. Soalnya begitu terbang tidak dapat angin. Tapi tak lama kemudian ada angin lagi akhirnya bisa naik dan landing di tempat yang disediakan. Kalau dibandingkan di Batu masih ekstrem sini,” kata pemuda yang biasa bermain paralayang di Batu dan Modangan itu.

Pengelola wisata paralayang Gunung Pegat, Irvan Fauzi mengatakan tempat wisata ini baru dirintis sekitar enam bulan.

Pengelola masih terus memperbaiki fasilitas untuk paralayang termasuk akses menuju ke puncak. Ketinggian puncak Gunung Pegat sebagai tempat take off sekitar 303 mdpl.

Untuk sementara, wisata tersebut hanya dibuka pada Sabtu dan Minggu. Bagi masyarakat yang ingin menikmati sensasi paralayang di Gunung Pegat cukup membayar Rp 350.000 per orang.

“Kami terus membenahi fasilitas di lokasi. Kelebihan paralayang di sini anginnya ada terus sepanjang tahun,” kata Irvan. (Surya/ Samsul hadi)

Penulis: Samsul Hadi
Editor: YONY iSKANDAR
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help