TribunJatim/

Aneh, Beras Petani di Mojokerto Tak Terserap Oleh Bulog

Penyerapan beras di wilayah Mojokerto masih sangat rendah. Jauh dari target yang ditetapkan.

Aneh, Beras Petani di Mojokerto Tak Terserap Oleh Bulog
SURYA/RORRY NURMAWATI
Sidak beras yang dilakukan pejabat Forpimda di Mojokerto, akibat rendahnya serapan beras petani oleh Bulog, Selasa (28/8/2017). 

TRIBUNJATIM.COM, MOJOKERTO - Penyerapan beras di wilayah Mojokerto masih sangat rendah. Dari target yang dipatok sebesar 10 ribu ton, saat ini baru terealisasi 27,9 persen saja. 

Untuk meningkatkan penyerapan beras di Perum Bulog Sub Divre II Selatan, forum pimpinan daerah wilayah Mojokerto dan Jombang bersinergi bersama.

Dandim 0815, Letkol Czi Budi Pamudji mengatakan, rendahnya serapan beras karena sejumlah kendala. Mulai hama wereng hingga puso yang menyebabkan kondisi panen yang tidak maksimal.

"Inilah yang menyebabkan salah satu kendala penyerapan beras yang jauh dibawah target," tegasnya, usai inspeksi mendadak di gudang beras Bulog Sub Divre II Selatan, Kabupaten Mojokerto, Selasa (29/8/2017).

(Berbekal Seragam Petugas PLN, Pria ini Datangi 23 Rumah dan Dapat Uang Puluhan Juta)

Sidak kali ini dinilai penting untuk mengetahui kondisi stok beras yang ada. Mengingat, adanya fleksibilitas harga yang baik mencapai Rp 8030.

"Kondisi panen yang tidak maksimal, tidak bisa mendukung penyerapan gabah. Dengan adanya fleksibilitas harga kita harapkan akan ada peningkatan. Padi yang kita cek sudah bagus, kadar air mencapai 14, sehingga ini bisa bertahan sampai enam bulan ke depan," jelasnya.

Disinggung soal beras yang ditolak oleh Bulog beberapa waktu lalu, Budi Pamudji pun menjelaskan bahwa Bulog mempunyai persyaratan tersendiri terhadap kondisi beras.

(Hendak Ledakan ATM Pakai Bom, Pria Singapura ini Pilih Surabaya Target Operasi)

Sebab, beras yang diterima oleh Bulog bukan beras yang siap dikonsumsi pada saat itu. Melainkan, beras tersebut masih harus ditimbun sebagai stok yang bisa dikonsumsi pada empat hingga enam bulan kedepan.

Halaman
123
Penulis: Rorry Nurmawati
Editor: Mujib Anwar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help