Gubernur Jabar Komentari Sindikat Saracen Yang Dugulung Polisi

Keseriusan pemerintah dalam memerangi kabar kibul (hoax) memasuki puncaknya saat ‘pabrik hoax’ Saracen dibongkar Polri dan tiga orang tersangka telah

Gubernur Jabar Komentari Sindikat Saracen Yang Dugulung Polisi
Kompas TV
Tiga tersangka anggota kelompok Saracen, penyedia jasa penyebar ujaran kebencian atau hate speech dan hoax untuk menyerang suatu kelompok tertentu, yakni (dari kiri) JAS alias Jasriadi (32), ketua sindikat Saracen, Muhammad Faizal Tonong, pemilik akun Faizal Muhammad Tonong atau Bang Izal (43), ketua bidang media informasi, dan Sri Rahayu Ningsih (32), koordinator grup Saracen wilayah Jawa Barat. Jasriadi ditangkap polisi di Pekanbaru, Riau, Muhammad Faizal Tonong ditangkap di Koja, Jakarta Utara, pada 20 Juli 2017, sedangkan Sri Rahayu Ningsih ditangkap di Cianjur, Jawa Barat, pada 5 Agustus 2017 lalu. 

 TRIBUNJATIM.COM, BANDUNG - Keseriusan pemerintah dalam memerangi kabar kibul (hoax) memasuki puncaknya saat ‘pabrik hoax’ Saracen dibongkar Polri dan tiga orang tersangka telah diamankan terkait kasus ini Rabu (23/8/17) lalu.

Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (Aher) berpendapat hoax ini tidak bisa begitu saja diabaikan karena ketika membangun negara, dibutuhkan kestabilan.

“Hoax ini serupa riak yang lama kelamaan bisa mengganggu pembangunan,” katanya di Bandung, Selasa (29/8/17).

Untuk itu pihaknya mengajak semua pihak menghadapi bersama hoax. Aher kemudian mengapresiasi positif usulan adanya Hub untuk kroscek kabar kibul yang beredar di masyarakat terutama media sosial.

“Ide hub yang mengemuka ini adalah kelompok bersama untuk melaksanakan kroscek oleh media mainstream yang dilaksanakan oleh jaringan wartawan di media mainstream dan diklarifikasi lalu ditulis juga oleh media mainstream agar cepat tersebarnya, tentu saja dengan cover – bukan saja both – tapi all sides. Jadi dengan berbagai cara pandang,” katanya.

Menurutnya, jarak waktu penanganan berita hoax paling lama memerlukan waktu seminggu.

“Kalau berita hoaxnya 2-3 hari, paling lambat seminggu lah. Hari kedelapan harus ada klarifikasi. Kalau berlarut-larut, kasihan anak bangsa ini kalau energinya terkuras untuk komentari berita-berita hoax,” katanya.

Sekarang ini sudah ada web application karya anak bangsa untuk mengidentifikasi apakah konten itu hoax atau fakta yaitu Hoax Analyzer.

Aplikasi ini dikembangkan oleh tiga orang mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) dan telah memenangkan kompetisi se-Asia Tenggara mewakili Indonesia dalam ajang Imagine Cup 2017.

Editor: Yoni Iskandar
Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help