TribunJatim/

30 Desa di Bangkalan Berstatus Kering Kritis, Warga Butuh Pasokan Air Bersih

Kering kritis adalah warga harus menempuh jarak 3 kilometer untuk mendapatkan air bersih. Sedangkan debit air tidak mampu mencukupi minimal 50 kepala

30 Desa di Bangkalan Berstatus Kering Kritis, Warga Butuh Pasokan Air Bersih
TribunJatim/ Galih Lintartika
ANTISIPASI : BPBD distribusikan air bersih beberapa waktu lalu. 

 TRIBUNJATIM.COM, BANGKALAN - Musim kemarau selalu menjadi atensi Pemkab Bangkalan. Pasalnya, 30 desa di 12 kecamatan berstatus desa kering kritis. Permintaan air bersih mulai mengalir sejak beberapa minggu terakhir.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bangkalan Rizal Moris mengungkapkan, sejumlah desa terdampak kekeringan telah mengajukan pemenuhab air bersih.

"Seperti di Kecamatan Kokop, pengajuannya merata. Bersama dinas sosial, kami akan distribusikan enam tangki air bersih. InsyaAllah Senin," ungkap Rizal Morris, Kamis (7/9/2017).

Kering kritis adalah warga harus menempuh jarak 3 kilometer untuk mendapatkan air bersih. Sedangkan debit air tidak mampu mencukupi minimal 50 kepala keluarga.

Ia menjelaskan, pemenuhan bantuan air bersih untuk desa terdampak kekeringan terkendala dengan minimnya anggaran di BPBD Bangkalan.

"Desa lainnya akan diupayakan bantuan dari provinsi. Karena anggaran kami kecil," jelasnya.

Adapaun 12 kecamatan, dari 18 kecamatan, yang terdampak kekeringan di antaranya Kecamatan Kokop, Konang, Geger, Tanjung Bumi, Sepulu, Klampis, Tragah, Tanah Merah, Kwanyar, Galis, dan Kecamatan Arosbaya.

Akibatnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bangkalan memberlakukan siaga darurat kekeringan.

Rizal menambahkan, secara umum musim kemarau melanda sejumlah kabupaten di Jawa Timur sejak Agustus - September 2017. Jumlah curah hujan pada Agustus-September diprediksi berjumlah 0-20 milimeter. Artinya, peluang terjadinya hujan sangat kecil.

"Pada saat puncak musim kemarau,waspadai suhu udara yang panas dan kering di siang hari. Suhu berubah dingin pada malam hingga pagi," imbuhnya.

Untuk itu, ia mengimbau masyarakat Bangkalan tidak melakukan pembersihan lahan, ilalang, dan sampah dengan cara membakar.

Selain itu, sebisa mungkin menyediakan atau membuat penampung yang berfungsi sebagai penampung air saat hujan.

"Perbaiki saluran irigasi dan hindari pendangkalan waduk. Karena jika waduknya dangkal akan berpengaruh terhadap daya tampung atau volume air," pungkasnya. (Surya/Ahmad Faisol)

Penulis: Ahmad Faisol
Editor: YONY iSKANDAR
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help