TribunJatim/

Sampah Rumah Tangga dan Sampah Pasar di Bangkalan Mulai Tak Tertampung di TPA

Belum turunnya penetapan lokasi (penlok) Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dari Provinsi Jatim membuat Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bangkalan me

Sampah Rumah Tangga dan Sampah Pasar di Bangkalan Mulai Tak Tertampung di TPA
Surya/Ahmad Faisol
TPA Desa Buluh Kecamatan Socah menampung sampah 214 meter kubik per hari. Penlok pembuatan TPA baru dari Provinsi Jatim belum juga turun hingga saat ini 

 TRIBUNJATIM.COM, BANGKALAN - Belum turunnya penetapan lokasi (penlok) Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dari Provinsi Jatim membuat Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bangkalan memeras otak. Pasalnya, jumlah sampah di TPA Desa Buluh, Kecamatan Socah, telah menembus 214 meter kubik per hari.

Dengan luas 2,5 hektare, tentu saja TPA yang ada tak mampu menampung sampah-sampah rumah tangga dan pasar.

Termasuk sampah dari rumah makan yang keberadaannya terus meningkat sejak beroperasinya Jembatan Suramadu pertengahan 2009 silam.

"Sampah dari rumah-rumah makan langsung dibuang ke TPA. Kini jumlah sampah telah mencapai 214 meter kubik per hari," ungkap Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3, Imam Safri, Kamis (7/9/2017).

Ia menjelaskan, sambil menunggu penlok turun, pihaknya sementara ini melakukan pemadatan setiap seminggu atau sebulan sekali. Hal itu guna mengurangi penumpukan sampah.

"Penlok belum turun, masih proses. Minggu depan kami akan ke provinsi terkai masalah ini," pungkasnya.

Sekedar diketahui, peningkatan sampah secara signifikan mulai terjadi sejak tahun 2013. Saat itu, volume sampah harian telah mencapai 186 meter kubik.

Di tahun berikutnya, peningkatan sampah harian selaras dengan pertumbuhan populasi penduduk. Jumlah sampah di tahun 2014 merangkak naik hingga mencapai 212 meter kubik per hari atau naik sebesar 8 persen.

Kepala DLH Kabupaten Bangkalan Ishak Sudibyo menyatakan, selain melakukan pemadatan di TPA Desa Buluh, pihaknya menggalakkan pengolahan sampah menjadi barang dan produk bermanfaat.

"Kami terus kenalkan istilah Reuse, Reduce, dan Recycle (3R) kepada masyarakat. Mengolah sampah menjadi barang dan produk bermanfaat," ujar pria yang akrab disapa Yoyok itu kepada Surya.

Setiap warga diarahkan mengirim sampah ke Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) 3R atau ke 11 bank sampah yang telah tersebar di kota. Sampah-sampah setoran warga akan diolah di tiga TPST induk yang berlokasi di Perumahan Lavender, Pejagan, dan Bancaran.

"Kami juga bekerjasama dengan dinas pertanian untuk pendistribusian pupuk kompos, hasil dari sistem komposting," jelasnya

Disinggung terkait rencana pendirian TPA baru, Yoyok mengatakan telah mengajukan tiga lokasi. Salah satunya di Kecamatan Tragah seluas kurang lebih 10 hektare.

Tersendatnya penlok dari provinsi dikatakatan Yoyok, karena terkendala administrasi. Setelah ada perubahan struktur SOTK baru.

"Ada harapan tahun ini terealisasi karena FS (feasibility Study) sudah ada. Setelah penlok turun, akan berlanjut DED (Detailed Engineering Design), dan UKL/UPL," pungkasnya. (Surya/Ahmad Faisol)

Penulis: Ahmad Faisol
Editor: Yoni Iskandar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help