TribunJatim/

Ribuan Warga Banyuwangi Saksikan Tarian Magis Seblang Bakungan

Seblang Bakungan adalah tarian mistis Suku Using asli di Kelurahan Bakungan, Kecamatan Glagah. Tarian mistis yang digelar di Balai Desa Bakungan ini,

Ribuan Warga Banyuwangi Saksikan Tarian Magis Seblang Bakungan
Surya/Haorrahman
Penampilan Seblang Bakungan, yang banyak diminati oleh wisatawan. 

 TRIBUNJATIM.COM, BANYUWANGI - Seblang Bakungan adalah tarian mistis Suku Using asli di Kelurahan Bakungan, Kecamatan Glagah. Tarian mistis yang digelar di Balai Desa Bakungan ini, mampu menarik minat wisatawan.

Seblang merupakan tarian yang dibawakan oleh wanita tua dalam kondisi kerasukan roh atau tidak sadar diri. Seblang tahun ini ditarikan oleh Supani (66).

Supani merupakan seorang wanita tua keturunan Seblang, yang telah menari ritual seblang selama empat tahun berturut-turut. Dia juga merupakan keturunan Seblang Misna yang telah pensiun dari Seblang 14 tahun yang lalu.

Dalam ritualnya, setelah dibacakan mantra dan doa, sesaat kemudian Seblang langsung kerasukan roh tidak sadarkan diri dan menari dengan mengikuti irama gending dinyanyikan.

Gending-gending yang dikumandangkan untuk mengiringi penari seblang itu ada 13 gending, diantaranya Seblang Lukinto, Podo Nonton, Ugo-ugo dan Kembang Gading.
Ini tahun kedua bagi ritual Seblang Bakungan dimasukkan sebagai agenda Banyuwangi Festival 2017.

Upaya Pemkab Banyuwangi dalam mengangkat tradisi lokal ke dalam Banyuwangi Festival ini merupakan bentuk kepedulian terhadap pelestarian seni dan budaya daerah.

"Kami ingin seni dan budaya Banyuwangi terus eksis dan mendapatkan panggung untuk bisa ditampilkan ke khalayak luas," kata Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, Senin (11/9/2017).

Tujuan tradisi Seblang Bakungan ini kata Anas, adalah untuk bersyukur kepada Allah dan memohon agar seluruh warga desa diberi ketenangan, kedamaian, keamanan, dan kemudahan dalam mendapatkan rezeki yang halal serta dijauhkan dari segala mara bahaya.

Sebelum Seblang dimainkan, diawali tumpengan bersama warga di sepanjang jalan menuju Bakungan usai maghrib. Sebelumnya warga sholat magrib dan sholat hajat di Masjid desa.

Lalu dilanjutkan parade oncor (obor) yang dibawa berkeliling desa (ider bumi).
Selanjutnya di bawah temaram api obor, sepanjang jalan Bakungan dipenuhi tumpeng pecel pithik.

Halaman
12
Penulis: Haorrahman
Editor: YONY iSKANDAR
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help