TribunJatim/

Ritual Ulambana, Ratusan Umat Buddha Mojokerto Kirim Doa

Ratusan umat Buddha gelar doa bersama untuk para muslim Rohingya, yang menjadi korban konflik di Myanmar.

Ritual Ulambana, Ratusan Umat Buddha Mojokerto Kirim Doa
surya/ Rorry Nurmawati
Proses bakar sesaji dan kirim doa untuk kedamaian arwah korban Rohingya di Myanmar, oleh umat Buddha di Mojokerto. 

 TRIBUNJATIM.COM, MOJOKERTO - Ratusan umat Buddha gelar doa bersama untuk para muslim Rohingya, yang menjadi korban konflik di Myanmar.

Dengan harapan, arwah para korban meninggal yang mencapai ratusan nyawa agar bisa damai saat menuju surga.

Doa bersama ini dilaksanakan di Maha Vihara Majapahit, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

Tidak hanya doa, para umat Buddhis ini juga mengirimkan sesaji yang dikumpulkan jadi satu. Berbagai sesembahan diletakkan oleh masing-masing umat.

Berbagai bentuk sesaji pun bermacam-macam sesuai dengan kesukaan arwah para leluhur masing-masing keluarga.

Ada yang berupa uang, baju dan benda-benda lainnya. Semua sesaji itu, diletakkan dalam satu wadah berupa kapal berukuran besar yang terbuat dari kertas. Sebelum dibakar, kapal tersebut diberi percikkan air suci.

Penggunaan kapal dalam hal ini, bertujuan supaya sesaji yang dikirimkan untuk arwah keluarga dapat tersampaikan. Artinya, kapal tersebut untuk alat transportasi supaya sesaji bisa menyeberang ke alam arwah.

"Doa ini dikirimkan supaya arwah yang sudah meninggal bisa damai, tidak sakit hati dan tentunya tidak menganggu manusia yang masih hidup. Ritual tersebut juga dimaksudkan agar para arwah di surga tetap bisa menjaga sila dan kebaikan," kata Pengurus Maha Vihara Majapahit Banthe Viriyanadi Mahathera.

Masih kata Banthe Viriyanadi, ritual kirim doa kepada para leluhur atau ritual ulambana, biasa digelar setiap bulan tujuh tanggal 15 penanggalan imlek.

"Ritual ini ibaratnya, bagi orang Jawa itu Suroan. Jadi Ritual Ulambana seperti itu, dengan mengirim doa kebaikan dan kebijakan," imbuhnya.

Disinggung soal konflik di Myanmar, Banthe Viriyanadi menanggapi bahwa pembantaian ataupun kekerasan, hal itu tidak mungkin dilakukan oleh umat Buddha.

Sebab, umat Buddha diajarkan untuk tidak membantai dan membunuh manusia. Ia pun menilai, bahwa konflik tersebut dilakukan oleh oknum terori yang sengaja ingin mengadu domba.

"Kami mencurigai ada teroris yang pakai jubah, karena tidak mungkin biksu melakukan hal itu. Kami semua umat di manapun berada, tidak diajarkan untuk saling membunuh dan membantai. Semoga ini semua segera berakhir dan bisa hidup damai," tegasnya. (Surya/Rorry Nurmawati)

Penulis: Rorry Nurmawati
Editor: Yoni Iskandar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help