TribunJatim/

Peminum Termakan Rayuan Sales Miras

Terhitung sejak Agustus hingga September 2017, ada delapan orang mati karena minuman keras. Dari semua kejadian tersebut, rata-rata korban menenggak j

Peminum Termakan Rayuan Sales Miras
SURYA/DAVID YOHANES
Mardianto, korban pesta miras saat menjalani perawatan di RSUD dr Iskak Tulunagung. 

 TRIBUNJATIM.COM, TULUNGAGUNG -Terhitung sejak Agustus hingga September 2017, ada delapan orang mati karena minuman keras. Dari semua kejadian tersebut, rata-rata korban menenggak jenis meniuman Kuntul Alimi.

Empat orang meninggal dunia, usai menggelar pesta miras di Cafe Bengawan, Desa Bulusari, Kecamatan Kedungwaru, Senin (7/8/2017) siang hingga Selasa (8/8/2017) malam.

Hal yang sama juga diungkapkan Yeyen, seorang pemilik café yang juga menjual miras. Yeyen mengatakan, dirinya selalu menjual miras dari distributor resmi yang sudah mengantongi izin.

“Saya tidak mau untung besar, tapi ada korban. Ujung-ujungnya saya dipenjara,” ucapnya.

Namun sering kali Yeyen dirayu oleh para sales miras palsu untuk mengganti pemasok. Para sales ini biasanya memberikan harga jauh lebih murah. Alasannya barang diambil langsung dari pabrik.

Untuk satu botol Alimi dijual hanya Rp 75.000. Padahal harga di agen resmi bisa mencapai Rp 125.000 per botol kemasan satu liter. Pemasok miras palsu ini juga menawarkan kemudahan, barang akan di antar sampai ke café.

“Biasanya kalau di agen resmi, kita yang belanja ke sana. Mereka (sales miras palsu) mengiming-imingi mengantar barang sampai lokasi,” tutur Yeyen.

Khusus untuk Kuntul Alimi, Yeyen mengaku tidak mau menjual. Alasannya minuman ini sangat meragukan, dan banyak kasus keracunan karena minuman ini. Yeyen memilih menjual jenis Vodka dan Iceland.

Baca: Miras Jenis Kuntul Alimi Telah Menewaskan Delapan Peminum

Waka Polres Tulungagung, Kompol I Dewa Gde Juliana mengatakan, pihaknya sudah meminta keterangan penjual miras yang menyebabkan Agus Setiawan meninggal dunia.

Pihaknya juga sudah mengantongi identitas penjual di atasnya, namun masih didalami. Namun belum diketahui, apakah produk miras Kuntul tersebut asli atau palsu.

Polres Tulungaung telah mengirimkan sampel miras tersebut ke Pusabfor Mabes Polri cabang Surabaya.

Pihaknya masih menunggu hasil uji laboratorium kandungan miras tersebut. Untuk memastikan palsu atau asli, nantinya Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) yang akan menentukan.

“Dari hasil uji lab akan diketahui kandungannya. BPOM yang akan menentukan, apakah kode produksi asli atau tidak,” tandas Dewa. (Surya/David Yohanes)

Penulis: David Yohanes
Editor: YONY iSKANDAR
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help