TribunJatim/

Deteksi Bencana Sejak Dini, Pemkab Mojokerto Pilih Gandeng Lembaga Asing ini

Banjir bandang yang terjadi pada 26 Maret lalu jadi inisiasi untuk melakukan upaya pencegahan sejak dini.

Deteksi Bencana Sejak Dini, Pemkab Mojokerto Pilih Gandeng Lembaga Asing ini
SURYA/RORRY NURMAWATI
Kondisi banjir di Desa Ngembetsari, Gebangmalang, Kabupaten Mojokerto, Minggu (26/2/2017). 

TRIBUNJATIM.COM, MOJOKERTO - Pemerintah Kabupaten Mojokerto sepakat menggandeng United States Agency for International Development-Adaptasi Perubahan Iklim dan Ketangguhan (USAID-APIK), untuk melakukan deteksi bencana sejak dini.

Mengingat, Kabupaten Mojokerto menjadi salah satu daerah rawan banjir bandang.

Kerjasama yang dikemas dalam forum, Konsultasi Publik dan Penyusunan Rencana Aksi Komunitas dan Penyusunan Rencana Kontijensi Banjir Bandang Desa Begaganlimo, Dilem dan Kalikatir, turut dihadiri oleh Wakil Bupati Mojokerto, Pungkasiadi.

"Banjir bandang yang terjadi pada 26 Maret lalu di wilayah Dilem, menginisiasi kami untuk melakukan upaya pencegahan sejak dini," ujar Pungkasiadi, Kamis (14/9/2017).

(Pengesahan Anggota PSHT, Aparat Kekuatan Penuh Dikerahkan dan Bikin Larangan Keras ini)

Oleh karena itu, Pemkab Mojokerto bekerjasama dengan USAID-APIK untuk memfasilitasi penyusunan rencana kontijensi atau proses mempersiapkan organisasi untuk merespon peristiwa yang tidak direncanakan.

"Kami berharap, dengan adanya kontijensi dapat meminimalisir korban jiwa akibat bencana alam tersebut," jelasnya.

Sementara itu, perwakilan dari USAID-APIK Regional Jawa Timur, Yopi Sakerah menjelaskan, seiring dengan perkembangan jaman dan teknologi, bencana alam bisa segera diketahui dengan deteksi dini.

(Terlanjur Bayar Rp 150 Juta, Calon Mahasiswa ini Disurati Diterima di Teknik Industri UB, Ternyata)

Kemajuan jaman dan perkembangan teknologi akan sangat membantu dalam mengantisipasi dini bencana alam kecuali gempa.

"Kami dari USAID-APIK akan ada di Kabupaten Mojokerto sampai dengan akhir tahun 2020. Bekerjasama dengan Pemkab Mojokerto adalah salah satu faktor kunci keberhasilan program USAID-APIK dalam meningkatkan ketangguhan masyarakat menghadapi risiko iklim dan bencana,” katanya.

Tahapan dalam penyusunan kontijensi USAID-APIK meliputi tiga desa diantara kajian resiko bencana secara partisipatif, kajian ancaman banjir bandang dan kajian kerentanan atau kapasitas masyarakat.

(Sabu Senilai Rp 9 Miliar Dibakar di Polres Sampang, Dua Kurirnya Hanya Cengar-cengir)

Selanjutnya menyusun dokumen rencana kontijensi dengan memanfaatkan hasil kajian resiko untuk menentukan tingkat keterpaparan penduduk dan asetnya.

"Sedangkan yang terakhir adalah menyusun kajian resiko tersebut menjadi rencana ketangguhan masyarakat yang tidak terbatas juga mengurangi resiko bencana di masa datang. Sehingga, resiko apapun bisa dicegah dengan kesiapan sejak dini," tegas Yopi. (Surya/Rorry Nurmawati)

Penulis: Rorry Nurmawati
Editor: Mujib Anwar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help