TribunJatim/

Polda Jatim Tangkap Dua Pelaku Perdagangan Manusia, Cara Menjualnya Pakai Aplikasi Modern Ini

Terungkapnya kasus perdagangan manusia melalui jejaring sosial WhatsApp dan Line mesenger menguak tabir lama.

Polda Jatim Tangkap Dua Pelaku Perdagangan Manusia, Cara Menjualnya Pakai Aplikasi Modern Ini
TRIBUNJATIM.COM/PRADHITYA FAUZI
Sejumlah Barang Bukti dan Dua Tersangka Perdagangan Manusia Dihadirkan Saat Press Release di Ruang Bidang Humas Polda Jatim, pada Rabu (13/9/2017) 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Pradhitya Fauzi

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Terungkapnya kasus perdagangan manusia melalui jejaring sosial WhatsApp dan Line messenger menguak tabir lama.

Pasalnya, modus yang digunakan para pelaku bernama Ayu Sriwulan (19) asal Kapas Madya Baru, Surabaya dan Putri Febria Anita (23) asal Jojoran, Surabaya meemasarkan korbannya melalui grup yang dibuatnya di dua sosial media itu.

Kanit 1 PPA Subdit 1 Renakta Polda Jatim, Kompol Yasinta Mau didampingi Kasubdit Penmas, Kompol Putu Mataram menegaskan bila dua mucikari yang masih satu jaringan itu memajang sejunlah foto dari korban yang akan ditawarkan kepada para pria hidung belang. (13/9/2017)

"Di situ mereka mengupload (mengunggah) nama dan foto calon-valon korban, nah nanti para pria yang akan menjadi pelanggannya bisa memilih, mau menginginkan yang mana," tutur Yasinta.

Layaknya toko retail dan partai dalam sebuah pasar, bila salah satu dari mereka kehabisan stok untuk dijajakan di sosial media (sosmed) itu, maka akan ditawarkan ke tersangka satunya.

Dari sana, salah sattu dari mereka akan menawarkan stok korban yang dimiliki.

"Ketika calon pengguna meminta, misalnya meminta pada tersangka A, kemudian stok dari tersangka habis, maka akan ditawarkan ke tersangka yang memiliki stok korbannya yang lain," lanjutnya.

Dari sana, para tersangka saling berkoordinasi menawarkan korban mana saja yang tersedia untuk para calon pengguna.

Dalam sebuah sosmed tersebut, telah ada grup yang tersedia khusus untuk para pelanggan dengan menarif setiap korban mulai dari Rp 1.000.000,00 sampai Rp 1.600.000,00.

Polisi pun memeriksa para saksi yang berasal dari sejumlah korban yang diperdagangkan dan beberapa dari para anggota grup yang telah berisi nama serta foto para korban.

Kini kasus tersebut telah terungkap dan dua tersangka itu dijerat pasal 88 Undang-Undang Republik Indonesia (UU RI) nomor 35 tahun 2014 atau pasal 2 UU RI nomor 21 tahun 2007.

"Sedang dalam pemberkasan dan mereka juga akan menjalani hukuman mereka," tutup Yasinta.

Penulis: pradhitya fauzi
Editor: Edwin Fajerial
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help