TribunJatim/

Astaga, Sungai Kedunglarangan Pasuruan Ternyata Menyimpan Sampah Popok Bayi Sebanyak ini . . .

Forum Komunikasi Peduli Lingkungan (FKPL) dan Ecoton bekerjasama dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pasuruan menyisir Sungai Kedunglarangan

Astaga, Sungai Kedunglarangan Pasuruan Ternyata Menyimpan Sampah Popok Bayi Sebanyak ini . . .
surya/Galih Lintartika
Tim FKPL bersama Ecoton, dan DLH melakukan evakuasi sampah popok di Sungai Kedunglarangan Kabupaten Pasuruan. 

TRIBUNJATIM.COM, PASURUAN - Forum Komunikasi Peduli Lingkungan (FKPL) dan Ecoton bekerjasama dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pasuruan menyisir Sungai Kedunglarangan, Senin (18/9/2017) siang.

Mereka bergotong-royong membersihkan sampah di sepanjang sungai yang ada di kawasan Bangil tersebut.

Namun, dalam penyisiran kali ini, FKPL, Ecoton, dan DLH fokus dalam evakuasi sampah popok bayi. Hasilnya luar biasa. Dalam proses evakuasi dua jam atau sekira 120 menit, tim berhasil mengevakuasi sampah popok dengan berat kurang lebih 150 kilogram.

Setelah itu, sampah-sampah dibersihkan dari sungai dan diangkut ke Tempat Pembuangan Sampah (TPA).

Christia Anggraeni, anggota FKPL Pasuruan menyatakan, dari hasil identifikasi yang dilakukan dari tim, sampah plastik yang mengapung di sungai ternyata 70 persennya merupakan sampah popok bayi.

"Kami sudah mengidentifikasinya, dan memang kondisinya sangat memprihatinkan. Banyak sampah popok yang dibuang ke sungai," katanya.

Bahkan, kata dia, dari riset yang dilakukan, teridentifikasi, ada empat sungai di Pasuruan yang dijadikan tempat pembuangan popok, diantaranya Sungai Kedunglarangan, Sungai Beji, Sungai Kepulungan dan Sungai Gondanglegi. Keempat sungai ini sangat mudah sekali ditemukan popok bayi.

Baca: Hujan Voucher Liburan Taman Safari Pada Puncak Hari Jadi Kabupaten Pasuruan

Lebih lanjut, Christia menjelaskan, popok bayi ini menjadi problem karena dalam Undang-Undang Pengelolaan Sampah 18 Tahun 2008, popok bayi seharusnya dikelola secara sanitary landfill.

"Kondisi ini sangat berbanding terbalik dengan kondisi yang terjadi di lapangan. Kondisi ini tidak bisa dibiarkan, karena membahayakan dan bisa merusak lingkungan," ungkapnya.

Halaman
12
Penulis: Galih Lintartika
Editor: Yoni Iskandar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help