TribunJatim/

Beli Pulsa Usai Puas Layani Pria Hidung Belang Begituan, PSK Ini Malah Lapor ke Polisi, Kok Bisa?

Usai puas layani pria hidung belang, PSK ini hendak membeli sesuatu, tapi sang penjaga malah menolaknya. Kenapa?

Beli Pulsa Usai Puas Layani Pria Hidung Belang Begituan, PSK Ini Malah Lapor ke Polisi, Kok Bisa?
TRIBUNJATIM.COM/AQWAMIT TORIK
Ilustrasi PSK 

TRIBUNJATIM.COM - Prostitusi bagi sebagian daerah yang ada di Indonesia dianggap sesuatu yang bermasalah.

Oleh karena itu, tidak mengherankan jika sejumlah pemerintah daerah berusaha menutup kawasan lokalisasi yang ada di daerahnya.

Meski demikian, hal itu tampaknya masih belum bisa menghilangkan praktik prostitusi sama sekali.

Misalnya seperti yang ada di Kabupaten Blora.

Baca: Dukung UKM Kota, Lazada Gelar Event Shopping Street Di Ciputra World Surabaya

Baca: Berkasnya Sempat Dikembalikan KPU, Begini Pembelaan DPD Nasdem Kota Malang

Sebuah kejadian unik baru saja terjadi di lokalisasi tersebut.

Berdasarkan berita yang dilansir dari TribunJateng.com, seorang PSK cantik dilaporkan ke polisi.

Itu terjadi setelah melayani pria hidung belang, dan hendak membeli paket internet.

Namun, penjaga konter pulsa tersebut malah menolaknya.

Baca: Sering Dibilang Lemah, Menangis Ternyata Punya 6 Keajaiban Untuk Tubuh, No 4 Jadi Poin Penting!

Baca: Bunuh Pemuda Sakti Berjimat, Tiga ABG ini Divonis Sembilan Tahun Penjara

Seorang PSK cantik lapor polisi gara-gara uang yang digunakan beli paket internetan ditolak oleh penjaga konter.

Kejadian itu bermula ketika Sunardi alias Berok (30) warga Desa Pilang, Kecamatan Randublatung, Kabupaten Blora, kencani perempuan PSK muda dan beli miras.

Lokasi kencan berada di lokalisasi Sumber Agung, Cepu Kabupaten Blora.

Begitu terpuaskan pemuda itu membayar perempuan tersebut.

Baca: Polisi Pelajari Nopol Motor Milik Perampok Toko Emas di Blitar

Baca: Metode Kromatografi Semakin Canggih

Usai dipuaskan nafsunya, Sunardi kemudian memberikan sejumlah uang kertas kepada PSK tersebut.

Usai mendapatkan uang dari Sunardi, PSK itu kemudian menggunakannya untuk sebuah keperluan.

Tepatnya, untuk membeli paket internet di sebuah konter pulsa.

Namun, dia sangat kaget karena sang penjaga konter pulsa justru menolak uang yang disodorkannya.

Baca: Universitas Ma Chung Gelar Konferensi Internasional Kromatografi

Baca: Suku Bunga Acuan BI Turun, HSBC Sarankan Nasabah di Indonesia Lakukan Ini Agar Tetap Untung

Belakangan baru diketahui, ternyata uang itu memang bermasalah.

Tepatnya, uang yang digunakannya untuk membeli paket internet itu adalah uang palsu.

PSK pun kaget kemudian lapor polisi.

Polisi segera bergerak menindaklanjuti laporan itu.

Baca: Buah Apel Menurun, Produksi Keripik Apel di Kota Batu Ikut Lemas

Baca: 7 Tahun Ikut Kompetisi Futsal Piala Gubernur Jatim, Dewantara FC Ukir Sejarah Berhasil Masuk Final

Dia kemudian menyadari uang itu adalah pemberian dari Sunardi usai mendapatkan layanannya.

Sementara itu, pihak kepolisian mengungkapkan Sunardi membayar jasa PSK menggunakan uang palsu atau upal sebesar Rp 700.000.

Karena perbuatannya, pria yang bekerja serabutan itu akhirnya dicokok Tim Buser Polres Blora tanpa perlawanan, Senin (9/10) di rumahnya.

Untuk keperluan pemeriksaan, tersangka dijebloskan ke ruang tahanan Polres Blora.

Barang bukti yang disita antara lain uang pecahan Rp 100 ribu sebanyak 7 lembar.

"Waktu itu tersangka datang sendirian, dengan membeli minuman dan mengencani sorang PSK," kata Kasat Reskrim Polres Blora, AKP Herry Dwi sebagaimana rilis kepada tribunjateng.com, Selasa (10/10/2017).

Sebelumnya, saat di wisma, tersangka menyuruh seorang PSK untuk membeli minuman dan menemaninya dengan menyodorkan uang 200 ribu.

"Tanpa curiga uang palsu itu diterima dan memberikannya minuman," terang Kasat Reskrim.
Selanjutnya tersangka mengajak seorang PSK untuk kencan berhubungan badan dengan membayar Rp 300 ribu.

"Korban melaporkan kejadian yang dialaminya ke Polsek Cepu, dan langsung ditindak lanjuti. Kurang dari 48 jam pelaku berhasil di amankan Tim Buser," terang AKP Herry Dwi.
Dari hasil pemeriksaan sementara, ternyata Sunardi merupakan sindikat peredaran uang palsu yang ada di Kabupaten Jepara.

Atas perbuatannya tersangka dijerat dengan Pasal 26 ayat 2 dan 3 juncto Pasal 36 ayat 2 dan 3, UU RI nomor 7 tentang Mata Uang, sub Pasal 245 KUHP dengan ancaman maksimal 15 tahun penjara.

"Kasus ini masih kami kembangkan, untuk mengungkap sindikat uang palsu lainnya," tutup AKP Herry Dwi.

Editor: Januar Adi Sagita
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help