TribunJatim/

Produksi Bawang Merah Kabupaten Probolinggo Meningkat

“Varietas unggul yang kami pakai adalah bawang merah varietas Biru Lancor,” tegasnya.

Produksi Bawang Merah Kabupaten Probolinggo Meningkat
Surya/Galih Lintartika
Produksi bawang merah Probolinggo 

TRIBUNJATIM.COM, PROBOLINGGO - Produksi bawang merah di Kabupaten Probolinggo hingga akhir September 2017 mencapai 60.399 ton atau 110 % dari target produksi sebesar 54.880 ton dengan luas panen mencapai 5.967 hektar.

“Luas tanam bawang merah di Kabupaten Probolinggo mencapai 6.306 hektar atau 117,147% dari target luas tanam 5.383 hektar,” Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Probolinggo Ahmad Hasyim Ashari.

Menurut Fajar, sasaran tanam bawang merah ini tersebar di seluruh kecamatan. Terbesar ada di Kecamatan Dringu seluas 1.589 hektar, disusul Kecamatan Tegalsiwalan seluas 1.464 hektar serta Kecamatan Gending seluas 982 hektar dan Kecamatan Leces seluas 855 hektar.

“Demi meningkatkan luas tanam dan luas panen, kami ada usaha pengembangan perluasan kawasan bawang merah berupa penambahan areal tanam di luar kawasan potensi tanaman bawang merah,” jelasnya.

Fajar menerangkan, program pengembangan kawasan bawang merah ini berasal dari dana APBN tahun 2017. Tujuannya untuk menjaga ketersediaan bawang merah di luar musim tanam bawang merah.

“Program ini bertujuan untuk menambah area bawang merah untuk mengantisipasi melonjaknya kebutuhan bawang merah ketika tidak musim tanam. Oleh karena itu, diharapkan kelompok tani yang mendapatkan program ini melakukan penanaman di luar waktu musim tanam bawang merah,” terangnya.

Dikatakan dia, DKPP juga memberikan pembinaan kelompok di areal baru. Pembinaan ini dimaksudkan agar anggota kelompok bawang merah bisa lebih mengenal teknologi.

“Varietas unggul yang kami pakai adalah bawang merah varietas Biru Lancor,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan hingga saat ini di Kabupaten Probolinggo baru ada delapan penangkar benih bawang merah. Benih ini sangat berpengaruh kepada teknis budidaya.

Dalam setahun, satu penangkar bisa menghasilkan 20 hingga 100 ton benih. Total benih yang dihasilkan dari semua penangkar bisa mencapai 500 ton memenuhi kebutuhan 5.000 ton untuk lahan seluas 5000 hektar.

“Sehingga tidak mengherankan jika selama ini banyak petani yang menggunakan benih sendiri dan tidak bersertifikat. Padahal benih ini komponen paling utama dalam budidaya tanaman bawang merah,” ungkapnya.

DKPP juga melakukan pembinaan kepada para penangkar benih. Semua benih yang dihasilkan oleh penangkar ini bersertifikat untuk menjamin kualitasnya.

“Alhamdulillah, selama ini kebutuhan benih terpenuhi walaupun tidak semua bersertifikat,” tambahnya.

Fajar menambahkan, kendala utama dalam budidaya bawang merah adalah ulat grayak dan hama Lyriomiza (sekitar daun). “Oleh karena itu kami berupaya untuk mengadakan diklat teknik tematik bawang merah,” tambahnya,

Selama ini terang Fajar petani memproduksi bibit bawang merah tetapi tidak mempunyai gudang. Menyikapi hal tersebut DKPP menyarankan agar masyarakat menggunakan benih bersertifikat sehingga ada pengawasan mutu dan kualitasnya.
“Selama ini pemasaran bawang merah selain memenuhi kebutuhan lokal juga didistribusikan ke beberapa daerah di Brebes, NTB dan Nganjuk,” ucapnya.



Terkait dengan pengembangan kawasan bawang merah, Fajar menegaskan, hal tersebut dimaksudkan untuk mengontrol persediaan benih dan ketersediaan bawang merah di pasar.

“Harapan kami, komoditas bawang merah ini harganya stabil tidak terlalu mahal dan tidak terlalu murah. Sehingga antara petani dan konsumen sama-sama enak. Satu sisi kebutuhan masyarakat terpenuhi dan di sisi lain produksi petani terjual sehingga pendapatan dan kesejahteraan petani meningkat,” pungkasnya. (Surya/Galih Lintartika)

Penulis: Galih Lintartika
Editor: Yoni Iskandar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help