TribunJatim/

Perajin Layang-layang Hias Penyandang Difabel di Magetan ini Banjir Pesanan

Awalanya, tambah Agus Widodo, layang layang hias yang dibuatnya tidak bisa mengudara, bahkan sering sobek dan jatuh ke sungai

Perajin Layang-layang Hias Penyandang Difabel di Magetan ini Banjir Pesanan
Surya/Doni Prasetyo
Agus Widodo pria dengan keterbatasan warga Desa Pupus, Kecamatan Lembeyan, Kabupaten Magetan ini begitu cekatan meraut dan mengikat bambu untuk dijadikan lajang layang hias yang karyanya tembus Surabaya. Bandung dan Jakarta ini. 

 TRIBUNJATIM.COM, MAGETAN - Tiada kata menyerah, kekurangan yang dimiliki justru menjadi kelebihan untuk terus berkarya. Pantang bagi Agus Widodo, penyandang difabel (gangguan keterbatasan) perajin layang layang warga Desa Pupus, Kecamatan Lembeyan, Kabupaten Magetan untuk minta belas kasihan.

"Musim kemarau yang hanya empat bulan, saya gunakan untuk membuat layang layang hias. Hasilnya lumayan buat bantu Ibu,"kata Agus Widodo kepada Surya, Kamis (12/10).

Menurut Agus Widodo, meski tangan kiri dan kaki kanannya tidak tumbuh sempurna, namun sejak kecil menyukai layang layang hias yang ukurannya 10 kali lebih besar dari layang layang pada umumnya.

"Tidak tahu, saya sejak kecil suka memainkan layang layang hias. Tapi karena orangtua tidak mampu untuk membeli layang layang hias, saya berusaha membuat sendiri. Syukur Alhamdulillah, kegemaran saya pada layang layang hias sekarang bisa untuk mencari rejeki," ujar pria berambut sebahu ini.

Awalanya, tambah Agus Widodo, layang layang hias yang dibuatnya tidak bisa mengudara, bahkan sering sobek dan jatuh ke sungai. Namun pengalaman itu menambahnya semakin kuat berusaha belajar membuat layang lajang hias.

"Awalnya yang pesan tetangga disini. Tidak tahu, tiba tiba orang diluar desa banyak yang pesan, dan itu terus sampai sekarang pemesan layang layang hias datang dari luar Magetan,"katanya.

Ketenaran Agus Widodo sebagai perajin layang layang hias semakin bertambah, saat berhasil menjuarai lomba layang layang hias di Magetan.

Sejak itu layang layang hias Agus Widodo, tambah dikenal ke berbagai daerah, pesanan pun terus mengalir.

"Banyak pesanan, tapi sehari saya hanya mampu membuat tiga buah layang layang hias dengan bentuk sederhana. Kalau rumit bentuk layang layang yang dipesan, paling sehari dua buah. Tinggal rumitnya bentuk layang layang hias yang dipesan," jelas Agus Widodo.

Meski punya keterbatasan, tangan Agus Widodo terlihat begitu cekatan meraut bambu dan mengikat kerangka layang layang hias yang dibuatnya, kemudian menempelinya dengan kertas kusus. Baru kemudian mewarnai sesuai bentuk layang layang hias.

"Pemesanya datang dari Madiun. Surabaya, Bandung dan Jakarta. Kalau Bandung dan Jakarta itu yang pesan orang Magetan yang tinggal disana. Dari mereka itu kemudian banyak yang pesan langsung kesini. Ada yang dibuat sendiri, ada yang dijual kembali," kata Agus seraya menmbahkan, ramai pemesan layang layang hias hanya dimusim kemarau saja, kalau sudah musim hujan datang, lebih banyak membantu ibunya, Sanem bekerja jadi buruh tani. Sedang Bapaknya Marto sudah beberapa tahun lalu meninggal.


Harga layang layang hias yang dibuat pria difabel ini mulai Rp 20 ribu sampai Rp 300 ribu, tergantung model. Biasanya model yang punya nilai seni tinggi dan rumit, harganya mencapai Rp 500 ribu.

"Saya tidak pernah menghargai layang layang hias yang dibuat. Mereka yang membayar dengan nilai itu. Katanya harga itu umum untuk kota seperti Surabaya, Jakarta, dan Bandung. Kalau saya berapa pun diberi saya terima,"kata Agus Widodo merendah. (Surya/Doni Prasetyo)

Penulis: Doni Prasetyo
Editor: Yoni Iskandar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help