TribunJatim/

Pengrajin Perhiasan Gresik Was-was Adanya Larangan Penggunaan Merkuri

Saikhun juga meminta agar penegak hukum mencarikan penyelesaian dengan adanya rencana penghapusan penggunaan merkuri.

Pengrajin Perhiasan Gresik Was-was Adanya Larangan Penggunaan Merkuri
Surya/sugiyono
Tim satgas anti merkuri Polres Gresik melakukan sosialisasi dan koordinasi rencana penghapusan penggunaan merkuri dalam pengolahan emas pada usaha pertambangan, di Kantor Diskoperindag Kabupaten Gresik, Jumat (3/11/2017). 

 TRIBUNJATIM.COM, GRESIK – Pelaku usaha pencari bahan emas yang menggunakan bahan baku merkuri atau air raksa di Gresik was-was.

Para pengrajin mengkhawatirkan dengan rencana aksi nasional penghapusan penggunaan merkuri dalam pengelolahan pada kegiatan usaha pertambangan oleh tim satgas anti merkuri.

Saikhun Kepala Desa Dadapkuning Kecamatan Cerme mengatakan bahwa banyak masyarakat Dadapkuning yang bekerja mencari perhiasan emas menggunakan merkuri.

Pekerjaan yang sudah turun temurun itu, sampai saat ini masih dirasakan aman oleh masyarakat di Desa Dadapkuning Kecamatan Cerme dan warga Desa Giri yang membuka usaha pengkrajin emas.

“Setiap rumah itu ada dua sampai tiga anggota keluarga yang bekerja mencari perhiasan menggunakan air merkuri. Sampai saat ini masih sukses semuanya. Ada yang menjadi Kepala Desa, direktur dan Polisi,” kata Saikhun, saat menyampaikan keluhan dalam acara Sosialisasi dan Koordinasi rencana aksi nasional penghapusan penggunaan merkuri dalam pengelolahan pada kegiatan usaha pertambangan oleh tim anti merkuri Polres Gresik, di Kantor Diskoperindag Kabupaten Gresik, Jumat (3/11/2017).

Saikhun juga meminta agar penegak hukum mencarikan penyelesaian dengan adanya rencana penghapusan penggunaan merkuri.

“Seandainya larang itu, saya setuju, tapi yang penting dari pihak terkait, penegak hukum mencarikan solusi terbaik. Kita mendukung penuh satgas penegak merkuri, jangan sampai nanti peraturan itu menjadi bumerang masyarakat,” imbuhnya.

Begitu juga disampaikan warga Desa Giri yang sudah puluhan tahun menggunakan merkuri.

“Selama 25 tahun warga di Giri itu sehat-sehat saja menggunakan merkuri,” kata Khasan.

Baca: Promo AirAsia Mulai Rp 200 Ribuan, ke Bangkok Tak Sampai Rp 1 Juta, Simak Tiket Tujuan Lainnya!

Halaman
12
Penulis: Sugiyono
Editor: Yoni Iskandar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help