TribunJatim/
Home »

Jatim

Dunia Jurnalis Masih Jadi Sembrani Guru Lamongan, Ada yang Ingin Kritik, Tapi Takut Masuk Penjara

Bukti itu setidaknya muncul pada acara workshop literasi dan bedah buku yang digelar PGRI Kabupaten Lamongan dengan Harian Surya

Dunia Jurnalis Masih Jadi Sembrani Guru Lamongan, Ada yang Ingin Kritik, Tapi Takut Masuk Penjara
Surya/Hanif manshuri
workshop literasi dan bedah buku, PGRI Jatim kerja bareng dengan Harian Surya, di Gedung PGRI Lamongan, jalan KH Ahmad Dahlan, Kamis , (7/12/2017) Hanif Manshuri 

Fakta ada ada dua, empiris dan opini, yakni pendapat seseorang dan pembicaraan orang.

Ternyata profesi guru, bagi para pendidik ini masih belum cukup. Satu lagi, mereka tetap ingin berkiprah di dunia jurnalistik.

Menurut Musyahadah, Jurnalistik, adalah penyampaian berita melalui berbagai media. Jadi jangan terpaku pada majalah, atau koran saja. Media online juga banyak.

Satu persatu koidah jurnalistik dibeber dan mulailah bertambah keseriusan para peserta mengikuti acara ini.
Mulau nilai berita yang di dalamnya ada aktual, menarik, prnting, proximity, mendidk, menghibur, informatif, kontrol sosial dan human interest.

Untuk media cetak, redaksi  atau perusahaan akan memutuskan mana berita untuk HL, yakni banyak memuat nilai berita.
Sebelum mencari berita, harus melakukan pengamatan dengan melatih kepekaan pancaindera sebelum memutuskan memilih angle berita.

Pelatihan pancaindera dilakukan dengan mendengar, melihat, meraba, mencium dan mengecap. Dan tidak boleh terburu - buru melakukan wawancara sebelum satu menentukan hal menarik yang akan digali.

Teknik wawancara ini menentukan apakah wawancara ini untuk menggali lebih jauh atau sekedar pelengkap.
Tentukan topik wawancara (humen interest, biografi, peristiwa). Memahami masalah, tentukan nara sumber, dan kenali karakter.

Para peserta dikenalkan berita yang beraifat straight news (berita langsung), depth news (liputan mendalam), soft news (berita tingan), feature atau berita kisah.

Kepekaan dan sensitifitas para pendidik mulai muncul saat Musyahadah mencontohkan nara sumber, antara tokoh satu dengan tokoh lainya, yakni nama Syaifullah Yusuf dengan Soekarwo.

Ketika menyebut dan membandingkan nahwa satu dari dua nama itu lebih familier menjawab pertanyaan wartawan, UUs dianggap melalukan kampanye.

Halaman
1234
Penulis: Hanif Manshuri
Editor: Yoni Iskandar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help