TribunJatim/

Cuaca Ekstrem di Sumenep Paksa Nelayan Setempat 'Sekolahkan' Motor sampai Kulkas

Untuk mengisi kegiatannya, nelayan memilih memperbaiki dan mengecat perahu mereka yang ditambatkan di pantai desa setempat.

Cuaca Ekstrem di Sumenep Paksa Nelayan Setempat 'Sekolahkan' Motor sampai Kulkas
TRIBUNJATIM.COM/MOH RIVAI
Nelayan Sumenep pilih memarkir perahunya karena tidak bisa melaut di saat ombak tinggi. 

TRIBUNJATIM.COM, SEMENEP - Cuaca laut yang ekstrem sejak sebulan terakhir tidak saja menimbulkan banjir dan angin ribut di berbagai daerah, termasuk di wilayah Kabupaten Sumenep, Madura.

Ombak tinggi yang mengiringi cuaca ekstrem itu juga memaksa ribuan nelayan Sumenep berhenti melaut.

Akibat itu pula, harga ikan bagi di daratan ataupun di kepulauan jadi sangat mahal karena langka.

“Biasa mas, sudah setiap tahun menjelang akhir tahun dan memasuki tahun baru, cuaca selalu ekstrem, sehingga kami memilih tidak melaut,” ujar Supardi (45) nelayan asal Pulau Raas, Kecamatan Raas, Sumenep, Jumat (8/12/2017).

Untuk mengisi kegiatannya, nelayan memilih memperbaiki dan mengecat kembali perahu-perahu mereka yang ditambatkan di pantai desa setempat.

“Hari-hari kami ya diisi dengan melakukan perbaikan pada perahu-perahu kami yang sementara waktu berhenti melaut,” lanjut Supardi.

Hal senada juga dikatakan Mursalim (50) warga Pulau Sepanjang, Kecamatan Sapeken, Sumenep.

Ia menjelaskan, ketika musim barat atau musim angin sedang berlangsung seperti saat ini, merupakan masa paceklik nelayan.

Karena ketika tidak melaut maka pemasukan nafkah dalam keluarga mereka jadi terhenti. Makanya tidak heran jika keluarga para nelayan justru banyak menyerbu kantor pegadaian.

“Untuk mencukupi kehidupan sehari-harinya, maka sebagian nelayan justru banyak menggadaikan barang-barang berharganya, mulai menggadaikan motor, emas perhiasan, TV, kulkas atau lain-lainnya,” kata Mursalim.

Pihaknya berharap, cuaca buruk segera berlalu sehingga nelayan bisa melaut lagi mencari ikan dan bisa menghidupi keluarga.

“Ya kalau sampai berbulan-bulan, bukan tidak mungkin bisa-bisa kami kelaparan,” pungkasnya.

Sementara data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kalianget, Sumenep menyebut ketinggian gelombang di laut Jawa antara 1.3 – 2.5 miter mulai pagi hingga sore hari.

Sedangkan ketinggian gelombang saat malam hari diperkirakan meningkat antara 1.5 – 3.0 meter. Sedangkan arah angin, didominasi dari arah Barat Daya – Barat Laut dengan kecepatan maksimum di laut jawa 26 knots per 47 km/jam, dan di selatan jatim 28 knots per 50 km/jam.

BMKG mengimbau bagi masyarakat, khususnya nelayan untuk terus waspada. Dengan tinggi gelombang laut yang masih mengancam para nelayan.

Penulis: Moh Rivai
Editor: Adi Sasono
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help