Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia Ungkapkan HET Gula Terlalu Rendah, Ini Penjelasannya

HET gula sebesar Rp 12.500 per kilogram dianggap tidak sebanding dengan Harga Pokok Produksi (HPP) petani.

Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia Ungkapkan HET Gula Terlalu Rendah, Ini Penjelasannya
TRIBUNJATIM.COM/AULIA FITRI HERDIANA
Arum Sabil, Ketua Dewan Pembina APTRI saat memberi keterangan di Hotel Best Western Papilio Surabaya, Senin (15/1/2018) 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Aulia Fitri Herdiana

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Harga Eceran Tertinggi (HET) gula yang ditetapkan pemerintah dinilai tidak memperhatikan kondisi pabrik gula dan petani tebu di lapangan.

HET gula sebesar Rp 12.500 per kilogram dianggap tidak sebanding dengan Harga Pokok Produksi (HPP) petani.

Arum Sabil, Ketua Dewan Pembina Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) mengungkapkan saat ini harga lelang gula dipatok sebesar Rp 9.100 per kilogram.

"Padahal HPP atau harga lelang kita seharusnya Rp 10.500/kg," ucapnya saat menghadiri rapat evaluasi dan kinerja giling PTPN XI 2017 di Best Western Papilio Hotel Surabaya.

Bahkan, Arum menambahkan, harga gula di tingkat petani setidaknya sebesar Rp 15.000 per kilogram.

Ia menilai, penetapan harga gula juga harus mempertimbangkan harga beras yang berlaku di pasaran.

"HET Gula ya seharusnya sekitar Rp 17.500 per kilogram," ucapnya kemudian.

Pria bertopi tersebut menghimbau, jangan sampai gairah petani tebu terus menurun sehingga negara menjadi ketergantungan terhadap impor gula.

"Jangan dihantam murah terus, nanti petani kita gak ada yang mau tanam kayak kedelai itu," tegas Arum.

Produksi gula tercatat mengalami penurunan pada tahun 2017 dibandingkan tahun sebelumhya.

Tahun 2016, produksi gula hampir sebanyak 2,5 juta ton/tahun namun mengalami penurunan menjadi 2,1 juta ton/tahun pada 2017.

Penulis: Aulia Fitri Herdiana
Editor: Edwin Fajerial
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help