TribunJatim/
Home »

Bisnis

» Makro

Tahun 2017 Jadi Tantangan Buat Industri Gula di Jawa Timur, Begini Penjelasannya

PPN yang tadinya dikenakan pada komoditas gula sebesar 10 persen kini telah berhasil dicabut atas koordinasi dengan pemerintah.

Tahun 2017 Jadi Tantangan Buat Industri Gula di Jawa Timur, Begini Penjelasannya
TRIBUNJATIM.COM/AULIA FITRI HERDIANA
Suasana rapat evaluasi dan kinerja PTPN XI di Hotel Best Western Papilio, Surabaya (15/1/2018) 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Aulia Fitri Herdiana

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Tahun 2017 dinilai sebagai tahun penuh tantangan bagi industri gula termasuk PT Perkebunan Nusantara XI.

"Kami mendadak disodori kebijakan HET (Harga Eceran Tertinggi) dari pemerintah Rp 12.500 dan PPN (Pajak Penambahan Nilai) 10 persen," terang Daniyanto, Direktur Operasional PTPN XI saat membuka rapat evaluasi dan kinerja PTPN XI 2017, Senin (15/1/2018).

PPN yang tadinya dikenakan pada komoditas gula sebesar 10 persen kini telah berhasil dicabut atas koordinasi dengan pemerintah.

Selain itu, HET yang ditetapkan pemerintah untuk gula sebesar Rp 12.500 per kilogram dinilai tidak sesuai dengan survei yang dilakukan dilapangan.

Ketua APTRI (Asosiasi Petani Tebu Republik Indonesia) Jawa Timur, Arum Sabil menambahkan, seharusnya HET gula sama dengan 1,5 kali HET beras.

"Katakanlah Rp 10 ribu per kilogram untuk HET beras, maka harga dari petani tebu untuk gula setidaknya Rp 15 ribu per kilogram," ucapnya ditemui di acara yang sama.

Pantauan TribunJatim, HET beras di Jawa Timur menurut Perum Bulog Divre Jatim ialah sebesar Rp 9.450 per kilogram.

Jika seharusnya harga jual gula 1,5 kali dari HET beras, maka harga gula per kilogram menjadi Rp 14.175.

Sedangkan HET yang ditetapkan pemerintah saat ini untuk gula ialah Rp 12.500 per kilogram.

"Ini yang menjadi dilematis dan permasalahan lama di industri gula," terang Arum Sabil kemudian.

Penulis: Aulia Fitri Herdiana
Editor: Edwin Fajerial
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help