Prestasi Bulutangkis Jatim Merosot Tajam, Para Tokoh Bulutangkis Jatim Resah

Prestasi bulutangkis Jawa Timur (Jatim) tengah dalam sorotan para tokoh bulutangkis Jatim.

Prestasi Bulutangkis Jatim Merosot Tajam, Para Tokoh Bulutangkis Jatim Resah
TRIBUNJATIM.COM/AYU MUFIDAH KS
Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulutangkis 2017 

 TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Prestasi bulutangkis Jawa Timur (Jatim) tengah dalam sorotan para tokoh bulutangkis Jatim.

Prestasi Jatim dinilai merosot tajam, salah satu indikatornya ialah saat PON Jabar 2016 lalu Jatim gagal meraih medali emas dan hanya mendapat satu perak dan dua perunggu saja.

Menurunnya prestasi ini tentu mengundang keresahan tersendiri bagi para tokoh yang sebelumnya sempat membuat bulutangkis Jatim berjaya pada masanya.

Salah satunya Dewan Penasehat PBSI Jatim Ferry Steward. Ferry menilai saat ini kebijakan PBSI Jatim dinilai sangat mudah melepaskan bibit atlet berbakat ke klub daerah lain sehingga bukutangkis Jatim saat ini terbilang kekurangan dan nyaris habis.

Baca: Hilang di Sungai, Warga Kutai Timur Tewas Dimakan Buaya, Ini Fakta-fakta Kronologinya, No 4 Ngeri

"Kita lihat, berulang kali Jatim menggelar turnamen disini, tapi sangat jarang ada atlet Jatim yang bisa masuk lebih dari perempat final, apalagi semifinal dan final. Padahal keberhasilan pengurus diukur dari prestasi, kalau prestasinya tidak ada, pengurus itu dianggap gagal menjalankan tugasnya," kata Ferry Steward, Sabtu (3/3/2018).

Selain Ferry, Dewan Pakar PBSI Jatim Eddyanto Sabaruddin menelaah, sumber penurunan prestasi ini ditengarai terjadi karena kurangnya perhatian PBSI Jatim pada klub-klub di Jatim.

Bahkan PBSI Jatim justru terkesan membiarkan klub daerah lain 'hunting' atlet asli Jatim untuk diboyong membela klub daerah lain.

"Seperti diketahui, ujung tombak pembinaan adalah klub. Klub-klub yang menciptakan atlet berbakat untuk Jatim. Jadi seharusnya klub ini ya harus diperhatikan. Artinya PBSI Jatim harus duduk bersama dengan klub. Jangan sampai klub di Jatim ini mati semua. Bisa bahaya kalau klub di Jatim ini mati semua. Kita lihat betapa jayanya klub Jatim saat itu. Dulu kalau ada Kejurnas Jatim mendapat kuota 42 atlet dan selalu minta tambah karena banyak pemain yang ikut, tapi sekarang saya kasih jatah 40 yang ikut hanya 26 atlet," ujar Eddyanto Sabaruddin.

Sementara itu Yacob Rusdianto mantan Sekjen PB PBSI sekaligus ketua umum PB Suryanaga ini berharap adanya perubahan yang signifikan di tubuh PBSI Jatim.

Baca: Daya Saing Makin Ketat, Produksi Sepatu Lokal di Jawa Timur Menurun dan Stagnan

Sebab baginya yang terpenting saat ini ialah mencari solusi untuk menghentikan penurunan prestasi Jatim, bukan mencari siapa yang salah dalam hal ini.

"PBSI Jatim bisa berubah kalau ada tokoh yang mau berkorban untuk tampil memimpin Jatim. Sebab saat ini sudah tidak ada yang bisa kami banggakan sebagai wakil Jatim. Dulu Jatim mampu melahirkan juara olimpiade, seperti Alan Budi Kusuma, Tri Kusharyanto dan Dwi Sonny Kuncoro," jelas Yacob yang juga mantan Ketua Pengprov PBSI Jatim itu.

Untuk itu, pada Musyawarah Provinsi (Musprov) Pengprov PBSI Jatim yang akan digelar April mendatang, agenda utamanya ialah pemilihan ketua umum baru yang saat ini masih dipegang oleh Oei Wijanarko Adi Mulya.(Surya/Dya Ayu)

Penulis: Dya Ayu
Editor: Yoni Iskandar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help