Mahasiswa Unair Paparkan Kurikulum Berbasis Kedaerahan di Thailand

Konferensi itu diikuti peserta 34 negara. Seperti Indonesia, Brunei Darussalam, Jepang, Taiwan, Irak, Yordania, Afrika hingga Amerika

Mahasiswa Unair Paparkan Kurikulum Berbasis Kedaerahan di Thailand
sulvi sofiana/surya
Muhammad Risyad Fahlefi saat menyampaikan gagasan dalam forum 4th nternational Conference on Education yang dilaksanakan di Bangkok, Thailand, 5-7 April lalu. 

 TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA – Di Indonesia, sudah sebelas kali pemerintah mengganti kurikulum pendidikan. Hal ini diidentifikasi bahwa Indonesia masih sulit untuk menemukan formula kebijakan kurikulum pendidikan yang pas untuk diterapkan.

Hal ini dikarenakan kondisi latar belakang dan kebutuhan pelajar yang sangat beragam. Melihat hal ini, Muhammad Risyad Fahlefi, mahasiswa Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unair Surabaya membuat konsep kurikulm kedaerahan yang dipaparkan dalam konferensi bertajuk 4th nternational Conference on Education yang dilaksanakan di Bangkok, Thailand pekan lalu.

Konsep tersebut ia jadikan makalah dengan judul “Development for Regional Based Curriculum to Optimize Student Potential of Indonesia”.

Makalahnya berisi gagasan pengembangankurikulum berdasarkan kondisi masyarakat Indonesia yang multikultur, yaitu kebijakan kurikulum pendidikan berbasis kedaerahan.

Baca: Isra Miraj, Makam Sunan Bonang Diserbu Ribuan Peziarah

Dalam event yang diselenggarakan oleh The International Institute of Knowledge Management (TIIKM) itu, Risyad mempresentasikan gagasannya yang diakui memiliki sejumlah manfaat.

“Adanya latar belakang dan kebutuhan yang berbeda oleh pelajar di Indonesia, menuntut agar pemerintah dapat menyesuaikan kebijakan kurikulum pendidikan dengan realita yang ada. Gagasan itu dapat menjadi pilihan atas permasalahan yang ada,”paparnya pada SURYA.co.id (tribunjatim.com), Sabtu (14/4/2018).

Kurikulum ini dibutuhkan juga karena kondisi masyarakat Indonesia yang multikultur bisa menyebabkan disintegrasi sosial. Padahal pendidikan sebagai wujud tindakan preventif bagi ancaman disintegrasi bangsa.

“Kurikulum pendidikan berbasis kedaerahan yang diangkat sebagai solusi dapat menciptakan kesadaran akan multikultural,” jelas mahasiswa yang aktif di organisasi BEM FISIP, Himpunan Mahasiswa Ilmu Politik, dan BSO SKI FISIP itu.

Risyad mengutip pendapat para ahli bahwa pendidikan yang baik adalah pendidikan yang tidak memisahkan antara kondisi sosial, ekonomi, politik, dan budaya di sekitar.

Halaman
12
Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Yoni Iskandar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help