Kerusuhan di Stadion Kanjuruhan - Pedagang Asongan Ini Pertanyakan Kinerja Keamanan Lapangan

Arif menjadi satu korban kerusuhan di Stadion Kanjuruhan, Malang pasca laga Arema FC melawan Persib Bandung pada Minggu (15/4/2018).

Kerusuhan di Stadion Kanjuruhan - Pedagang Asongan Ini Pertanyakan Kinerja Keamanan Lapangan
TRIBUNJATIM.COM/AYU MUFIDAH
Halimah dan Arif, Pedagang Asongan yang dagangannya rusak usai kerusuhan di Stadion Kanjuruhan pasca laga Arema FC vs Persib Bandung 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Ayu Mufidah KS

TRIBUNJATIM.COM, MALANG - Arif menjadi satu di antara ratusan orang yang menjadi korban kerusuhan di Stadion Kanjuruhan, Malang pasca laga Arema FC melawan Persib Bandung pada Minggu (15/4/2018).

Ia mendatangi posko yang disediakan panitia pelaksana Arema FC di Kandang Singa, Jalan Mayjend Panjaitan No 42, Kota Malang untuk melaporkan kondisinya.

Arif dan istrinya, Halimah datang ke Stadion Kanjuruhan sebagai pedagang asongan yang lebih dari 10 tahun berjuala di stadion.

Menurutnya, kejadian kerusuhan yang terjadi malam tadi merupakan insiden yang paling besar.

(Hotel Mewah Ibunya Dilimpahkan ke Nagita Slavina, Isinya Bikin Melongo, Bakal Kaya Tujuh Turunan!)!

"Saya di stadion sudah berdagang sejak era galatama (Liga Sepak Bola Utama - jadi Liga Indonesia sejak 1994). Tidak pernah kerusuhan seperti ini. Dagangan saya hancur karena banyak orang yang berlarian setelah lemparan gas air mata," kata Arif.

Pria beralamatkan di Lesanpuro, Kedungkandang, ini menyesalkan tindakan aparat keamanan lapangan (steward) yang melemparkan gas air mata ke arah tribun penonton meski kerusuhan terjadi di tengah lapangan.

Hal tersebut membuat suporter yang ada di tribun berlarian.

"Saya lihat ada sampai 3 kali petugas melemparkan gas air mata. Kenapa malah di tribun penonton bukannya di lapangan? Padahal suporter banyak merangsek ke lapangan," lanjut dia.

(Marshanda Ungkap Rindu Putrinya di Instagram, Jawaban Ben Kasyafani Bikin Netizen Banjir Air Mata)

Akibat kejadian ini, Arif dan istrinya yang bermata pencaharian sebagai pedagang asongan harus merugi besar.

Pria berusia 47 tahun ini menaksir kerugian akibat kerusuhan mencapai 3-4 juta rupiah.

"Saya tidak ada pekerjaan lagi selain berdagang. Saya hanya minta pertanggungjawaban panpel dan aparat keamanan. Saya harap ke depannya aparat keamanan jangan semena-mena dengan suporter," imbuh dia.

(PT SPS Belum Kabulkan Tuntutan Massa, Tiga Hari Lagi Baru Diputuskan)

Penulis: Ayu Mufidah Kartika Sari
Editor: Anugrah Fitra Nurani
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved