Serangan Bom di Surabaya

Dibawa Densus 88 dari Tempat Kerja dan Rumah di Malang Diobok-obok, Arifin Ngaku Lega dan Memaafkan

Pria ini akhirnya buka suara dan blak-blakan tentang perlakuan Densus 88 terhadap dia dan keluarganya di Malang.

Dibawa Densus 88 dari Tempat Kerja dan Rumah di Malang Diobok-obok, Arifin Ngaku Lega dan Memaafkan
SURYA/BENNI INDO
M Arifin saat berada di rumahnya di Kabupaten Malang, Rabu (16/5/2018). 

Dilanjutkan Arifin, istrinya sebenarnya diperbolehkan pulang pada Senin pukul 11.00 wib. Namun kemudian dicegah sampai pukul 18.00 wib.

Setelah memeriksa istri Arifin, giliran Arifin yang didatangi oleh Densus 88. Ia dijemput dari tempat kerjanya di Kantor Pos Malang.

Dalam pengakuan Arifin, ada empat personil Brimob bersenjata lengkap sudah menunggunya.

Ditolak di Banyuwangi, Jenazah Bomber Gereja Surabaya Diterima Warga Magetan, Alasannya Mengejutkan

"Saya didatangi ke kantor pos, jam 14.00 WIB. Disuruh ke ruang pimpinan ternyata di sana ada empat polisi bersenjata lengkap. Saya diajak ke rumah memeriksa rumah saya terus diinterograsi di Mako Brimob Detasemen B Ampeldento," ujarnya.

Hampir seluruh bagian rumah diperiksa oleh Densus 88 Anti Teror. Beberapa ruangan diacak-acak oleh tim Densus 88 Anti Teror.

Setelah melakukan pemeriksaan, tidak ditemukan benda mencurigakan di rumah Arifin. Densus 88 Anti Teror hanya mengamankan dua karung plastik berisi buku.

"Setelah diacak-acak saya di bawa ke Mako Brimob Ampeldento kemudian jam 19.00 WIB Senin malam saya dilepas," paparnya.

Kisah Keluarga Terduga Teroris di Malang, Diajak Kenalan Malah Lari, Masuk Rumah Lewat Jalan Tikus

Kata Arifin, polisi hanya bawa buku-buku ajaran Islam dan fiqih yang tidak ada ajaran kekerasan atau radikal di dalam buku itu.

Di sisi lain, sebagai pegawai pemerintah, ia memahami tugas polisi. Pasca peristiwa itu, Arifin mengatakan memaklumi dan memaafkan.

Ia sekeluarga memaafkan atas peristiwa yang terjadi. Arifin hanya meminta polisi merehabilitasi nama baik keluarga.

Halaman
123
Penulis: Benni Indo
Editor: Mujib Anwar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help