Dikira Mati, Nenek Jumanti Akhirnya Pulang Usai 28 Tahun Jadi TKI di Arab Saudi, Simak Kisah Pilunya

Jumanti dikira sudah mati. Bahkan, keluarga sudah menggelar selamatan untuk dirinya. Namun, ternyata pulang

Dikira Mati, Nenek Jumanti Akhirnya Pulang Usai 28 Tahun Jadi TKI di Arab Saudi, Simak Kisah Pilunya
SURYA/ERWIN WICAKSONO
Nenek Qibtiyah (tengah) akhirnya pulang ke tanah kelahirannya, Jember, Selasa (15/5/2018) malam. Terlihat raut muka bahagia terpancar dari wajahnya. 

TRIBUNJATIM.COM, JEMBER - Keberadaan asal usul, tempat tinggal dan keluarga Nenek Jumanti alias Qibtiyah, Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang hilang puluhan tahun di Arab Saudi akhirnya terungkap.

Ini setelah Surya.co.id menelusuri jejak asal usul dan tempat tinggal sosok nenek berusia 74 tahun yang viral, usai ditemukan di Arab Saudi dan telah menerima gaji 266 juta dari majikannya di KBRI Riyadh.

Sebelum mengadu nasib sebagai TKI, Qibtiyah ternyata tinggal di sebuah dusun yang jauh dari pusat Kabupaten Jember, yakni Dusun Curah Sawah, Desa Paleran, Kecamatan Umbulsari, Kabupaten Jember.

Tetangganya membenarkan bahwa Dusun Curah Sawah adalah tempat domisili yang pernah menjadi saksi hidup Qibtiyah hidup di daerah tersebut.

"Udah lama, memang itu warga sini sekitar seingat saya 30 tahun lalu, udah hilang gak tau kemana, waktu itu saya masih bujang," ujar Soleh, seorang tetangganya, saat ditemui dirumahnya, Kamis (3/5/2018) petang.

Namun, Soleh mengaku tidak mengetahui dengan pasti siapa keluarga Qibtiyah. Dia menyarankan untuk mendatangi rumah yang dulu pernah ditinggali Qibtiyah dan kini ditempati anaknya nomor tiga.

Dari sinilah, kisah Qibtiyah akhirnya terkuak lewat penuturan Haji Tohari, adik iparnya.

Namun, pria tersebut berusaha mempertemukan Surya.co.id dengan Saiful Hadi, anak pertama Qibtiyah dan wawancara langsung dengannya.

Saiful Hadi pun lalu mengawali kisah menjelaskan nasib ibu kandungnya tersebut.

"Awal mulanya ibu berangkat seingat saya Agustus tahun 1990, waktu itu bapak masih ada, saya masih baru masuk tentara, waktu saya cuti pertama itu waktu pendidikan itu, ibu masih ada belum berangkat, saat cuti kedua saya pulang, tau taunya bapak menangis adik adik menangis bapak ibuk sudah berangkat," kenang Saiful Hadi dengan sedikit haru.

Halaman
1234
Penulis: Erwin Wicaksono
Editor: Januar Adi Sagita
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help