Serangan Bom di Surabaya

Anak Dilibatkan dalam Teror Bom, Khofifah Ingatkan Jangan Salah Pilih Guru Agama

dalam aksi teror di tiga gereja dan Mapolrestabes Surabaya, dilakukan oleh dua keluarga berbeda yang sama-sama melibatkan anak-anak

Anak Dilibatkan dalam Teror Bom, Khofifah Ingatkan Jangan Salah Pilih Guru Agama
(Surya/Fatimatuz zahroh)
Calon gubernur Jawa Timur nomor urut 1 Khofifah Indar Parawansa kampanye menyapa masyarakat dengan berkunjung ke Pasar Pahing Rungkut, Kamis (17/5/201). 

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Aksi teror beruntun yang terjadi di Surabaya masih menyisakan luka dan traumatis bagi warganya.

Yang menarik, dalam aksi teror di tiga gereja dan Mapolrestabes Surabaya, dilakukan oleh dua keluarga berbeda yang sama-sama melibatkan anak-anak dalam aksi bom bunuh diri tersebut.

Menanggapi hal tersebut Calon Gubernur Jawa Timur nomor urut 1 Khofifah Indar Parawansa turut mengimbau bahwa para orang tua dan seluruh warga Jatim, harus aware dan tidak asal dalam memilih guru, terutama guru agama.

"Jangan salah memilih guru, itu penting untuk disampaikan. Sebab doktrin sampai membawa anak dalam melakukan aksi teror pada dua keluarga itu tentu sangatlah 1kuat. Mereka pahamnya, jika mati syahid bersama keluarga maka mereka akan ketemu bareng di surga," ucap mantan Menteri Sosial ini, saat diwawancara usai blusukan di Pasar Pahing, Kamis (17/5/2018).

Yang harus ditekankan adalah Islam tidak pernah mengajarkan saling membunuh, justru Islam mengajarkan untuk menyemai damai dan menyemai kasih.

Bahkan menurut Khofifah pentingnya memilih guru yang tepat dan tidak salah harus dimulai juga pada anak di jenjang pendidikan usia dini.

"Dari aksi teror yang terjadi di Surabaya itu, kita tahu bahwa teror itu ada. Bahaya teror itu faktual, maka tokoh pendidik muli PAUD harus diajak untuk sama-sama mengajarkan bahwa kita hidup di dunia harus memberikan manfaat pada orang lain," tegasnya.

Baca: Hari Pertama Ramadan, Khofifah Blusukan ke Pasar Pahing Rungkut Surabaya

Lebib lanjut, ia mengatakan bahwa semalam, Khofifah juga menyempatkan diri untuk berkunjung ke persemayaman jenazah Evan dan Nathan yang juga menjadi korban ledakan bom di Gereja Santa Maria Tak Bercela Ngagel Surabaya.

Sehari sebelumnya ia juga takziah ke rumah duka almarhum Nuchin di Sidoarjo yang menjadi korban ledakan bom di Jalan Arjuno.

"Efek yang ditimbulkan atas tindakan teror ini besar. Anak-anak yang tidak berdosa harus kehilangan nyawa, anak yang seharusnya masih bisa berkumpul dengan ayahnya mendadak menjadi anak yatim, ada sisi kemanusiaan yang akhirnya terengut akibat tindakan teror," tegasnya.

Baca: Anak Pelaku Pengebom Rusun Wonocolo yang Tolak Ajaran Radikal Orangtua Akan Dikembalikan ke Neneknya

Meski begitu, pendidikan anti radikalisme dikatakan mantan Kepala BKKBN ini bukan hanya tugas guru agama. Namun juga guru pendidikan di kelas yang lain. Termasuk guru mata pelajaran yang lain.

Sehingga paham radikalisme harus dilawan dari segala lini. Terutama di jenjang pendidikan anak sejak dini. ( Surya/Fatimatuz zahroh)

Penulis: Fatimatuz Zahroh
Editor: Yoni Iskandar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved