Warga Magetan Resah Dengan Polusi LIK, Sejumlah Warga dan Balita Terserang Sesak Nafas

Warga di sepanjang Kali Gandong, Magetan, mengeluhkan polusi udara yang ditimbulkan dari limbah di lingkungan Industri Kulit (LIK)

Warga Magetan Resah Dengan Polusi LIK, Sejumlah Warga dan Balita Terserang Sesak Nafas
Surya/ Doni Prasetyo
Instalasi Pengelolahan Air Limbah (IPAL) Lingkungan Industri Kulit yang dikelola UPT Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Timur ini sering dikeluhkan tidak saja warga di lingkungan LIK, tapi juga warga sepanjang Kali Gandong, yang melintas di wilayah Magetan kota. 

TRIBUNJATIM.COM, MAGETAN - Warga di sepanjang Kali Gandong, Magetan, mengeluhkan polusi udara yang ditimbulkan dari limbah di lingkungan Industri Kulit (LIK) setempat. Selain bau busuk menyengat, akibat dari polusi udara itu sejumlah warga dan balita terkena sesak nafas.

"Ini keluhan kami yang ke sekian. Kami sebenarnya tidak pingin mengganggu industri kulit itu. Asal, mereka juga tidak mengganggu warga dengan polusi udara yang ditimbulkan dari usahanya itu. Mereka perlu tahu, akibat polusi dari LIK banyak warga kami yang mengalami sesak nafas," ujar Muhammad Iqbal Ketua Rukun Warga (RW) 3, Kelurahan/ Kecamatan/ Kabupaten Magetan kepada Surya (tribunajatim.com), Rabu (23/5-2018).

Menurut Iqbal, warga di RW 3 yang sedikitnya terdiri dari empat Rukun Tetangga (RT) itu menerima langsung dampak dari polusi udara yang ditimbulkan dari tidak berfungsinya Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) LIK yang dikelola UPT Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Timur, di Magetan.

Baca: Heboh! Bocah SD Hamili Siswi SMP di Tulungagung, Begini Kata Polda Jawa Timur

"Kami dan warga disini tidak tahu ilmu kimia, ambang batas dan istilah istilah komia lain. Tahu kami, industri kulit itu menimbulkan dampak buruk terhadap lingkungan hidup kami, selain polusi udara juga lingkungan," kata Iqbal.

Dikatakan Iqbal, warga disini tidak mau tahu usaha industri kulit itu. Tapi, jangan juga mengganggu kehidupan kami, terutama lingkungan udara kami.

"Kami tidak mau berpolemik, yang penting, bagaimana mengolahnya, asal bau busuk campur mercury yang memenuhi udara kami tidak lagi kami rasakan. Lihat warga kami yang menderita sesak nafas akibat polusi, siapa bertanggungjawab," ujar Iqbal

Dikatakan Iqbal, warga di empat RT ini sudah berusaha melapor ke Bupati dan dinas lingkungan hidup, namun hingga kini belum ada tanggapan. Padahal, laporan yang dilakukan warga disini sudah berulang kali. Bahkan mediasi dengan LIK, PT Carma sudah dilakukan warga tapi tetap tidak ada perubahan.

"Di Magetan banyak warganya jadi petinggi di Jakarta, tapi faktanya, lingkungannya tercepar akibat limbah polutan yang ditimbulkan dari pengolahan kulit belum mendapat tanggapan,. Bahkan seakan petinggi itu tidak lagi peduli kondisi kotanya," kata Iqbal dengan nada tinggi.

Baca: Intip 7 Hadiah Unik untuk Pernikahan Pangeran Harry dan Meghan Markle, Ada Nama Koala Lho!


Kepala UPT Industri Kulit dan Produk Kulit Magetan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jatim Wahyu Siswanto, menolak polusi udara itu ditimbulkan dari IPAL nya. Karena IPAL milik LIK Disperindag Provinsi Jatim, sudah memenuhi standar pengolahan air limbah.

"Kami secara bertahap membangun lagi unit pengolah air limbah, teknologi yang kami pakai
buatan Jepang. Kami optimis, kedepan teknologi kami akan lebih baik dan pastinya tidak bakal mengganggu warga dilingkungan LIK," tandasnya.(Surya/Doni Prasetyo).

Penulis: Doni Prasetyo
Editor: Yoni Iskandar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved