Petani Tembakau di probolinggo Dilatih Perawatan dan Pemeliharaan Cultivator

Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Probolinggo memberikan bantuan hibah mesin pengolah tanah (cultivator)

Petani Tembakau di probolinggo Dilatih Perawatan dan Pemeliharaan Cultivator
(Surya/Galih Lintartika)
Ke-13 poktan yang menerima bantuan cultivayor mendapatkan pelatihan perawatan dan pemelihataan cultivator. 

 TRIBUNJATIM.COM,PROBOLINGGO - Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Probolinggo memberikan bantuan hibah mesin pengolah tanah (cultivator) kepada petani tembakau melalui anggaran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT).

Bantuan ini diberikan ke-13 kelompok tani (poktan) di Probolinggo dalam rangka meningkatkan standarisasi kualitas bahan baku tembakau.

Selain diberi alatnya, DKPP juga sekaligus memberikan pelatihan perawatan dan pemeliharaan cultivator tersebut.

Kepala DKPP Kabupaten Probolinggo Ahmad Hasyim Ashari melalui Kasi Tanaman Perkebunan Semusim Evi Rosellawati mengatakan, pemberian bantuan hibah cultivator ini untuk efisiensi biaya dan tenaga.

Baca: Villa Mulan Jameela Dinilai Kumuh, Apartemen Maia Estianty ‘Wow’ hingga Disebut: Langit dan Bumi

“Cultivator ini bermanfaat untuk pengolahan lahan, mencacah tanah supaya gembur agar keluar O2, penggulutan (bendengan tanah) serta penyiangan. Dengan demikian tanaman yang dihasilkan benar-benar bagus dan produktivitasnya meningkat,” ungkapnya.

Evi merinci, penggunaan cultivator ini sangat efisien dan efektif baik dari segi biaya maupun penggunaan tenaga kerja manusia. Dalam satu hektar lahan, diperlukan sedikitnya 4 orang dalam waktu 2 minggu untuk pembuatan gulutan tanah. Sementara dengan cultivator, hanya butuh 1 orang operator dalam jangka waktu 3 hari.

“Jika dikalkulasi, biaya yang dikeluarkan untuk pembuatan gulutan dengan tenaga kerja manusia mencapai Rp 4.480.0000. Asumsinya, tiap orang dibayar Rp 80 ribu dikalikan 4 orang kemudian dikalikan 14 hari. Sementara dengan cultivator biayanya hanya Rp 304 ribu selama 3 hari. Rinciannya, operatornya dibayar Rp 80 ribu selama 3 hari Rp 240 ribu. Plus BBM jenis premium 8 liter harganya Rp 64 ribu,” jelasnya.

Baca: Awas, Diperkirakan Puncak Arus Mudik di Bandara Juanda Tanggal 9 dan 10 Juni

Menurut Evi, dalam pelatihan ini para petani tembakau ini juga diajari pemeliharaan dan perawatan cultivator. Kebersihan alat juga harus selalu dijaga dan olinya jangan sampai telat.

Setelah digunakan, alat ini harus segera dibersihkan dan penempatannya juga harus benar. Dengan demikian, alat cultivator ini bisa awet dan bisa digunakan dalam jangka waktu yang lama.

“Melalui pelatihan ini kami mengharapkan agar kebutuhan ini terpenuhi. Dengan bantuan mekanisme ini biaya produksi tembakau akhirnya berkurang. Dengan pengolahan yang bagus, tanah bisa gembur sehingga produktivitas tembakau akan sangat bagus. Outputnya kesejahteraan petani tembakau semakin meningkat,” harapnya. (lih)

Penulis: Galih Lintartika
Editor: Yoni Iskandar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help