Mudik Lebaran 2018

Tak Mau Kena Tilang saat Mudik Lebaran, Perhatikan Hal Sederhana ini

Angkutan Lebaran akan segera datang dan para pemudik dengan kendaraan pribadi maupun harus camkan hal ini jika tak mau kena tilang.

Tak Mau Kena Tilang saat Mudik Lebaran, Perhatikan Hal Sederhana ini
SURYA/MOHAMMAD ROMADONI
Petugas Dishub melakukan pengecekan fungsi pengereman pada bus penumpang di Terminal Kertajaya Mojokerto, Rabu (30/5/2018). 

TRIBUNJATIM.COM, MOJOKERTO - Menyongsong kesiapan angkutan lebaran anggota UPT Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) Mojokerto Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Timur melakukan pengecekan rutin kondisi kendaraan umum penumpang di Terminal Kertajaya Mojokerto, Rabu (20/5/2018).

Emmy Retnowati Kepala UPT Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) Mojokerto Dishub Provinsi Jawa Timur menjelaskan pada H-8 pihaknya mempersiapkan posko untuk mengecek kondisi angkutan yang dioperasionalkan.

"Pengecekan angkutan lebaran itu mulai dari fisik kendaraan hingga surat-surat berupa buku uji dan uji trayek," ujarnya.

Dipaparkannya, adapun pengecekan fisik kendaraan di antaranya kaca retak yang sudah diperiksa oleh pemeriksa kendaraan yang mempunyai kualifikasi penguji.

Selain itu pengecekan juga dilakukan pada fungsi pengereman, lampu-lampu, sistem pengereman dan hand rem, wiper, ketersedian palu pecah kaca di dalam bus, lampu hazard hingga alat pemadam kebakaran di bawah jok sopir dan
kondisi tekanan angin ban dan ketebalan ban.

"Untuk bus penumpang dan angkutan yang dioperasionalkan tidak boleh memakai jenis ban rekondisi atau Vulkanisir lantaran itu aturan yang berlaku," ungkapnya.

Menurut dia, apabila angkutan umum memakai ban rekondisi yang mempunyai keterbatasan kemampuan daya mencengkeram aspal saat pengereman itu sangat membahayakan. Pasalnya, kualitas ban Vulkanisir dan ban asli dari pabrikan ternama itu sangat berbeda untuk menahan beban kendaraan ketika melaju di jalanan.

"Semuanya ini demi keselamatan bersama penumpang dan pengguna jalan lainnya. Vulkanisir itu membahayakan, fatal akibatnya kalau memakai ban itu untuk angkutan umum penumpang," jelasnya.

Disisi lain, kata Emmy ditemukan kaca bus dalam kondisi retak atau pecah yang sesuai informasi dari pengemudi itu terjadi karena ada pelemparan oleh orang tidak bertanggung jawab.

Apabila pengemudi bus memberi penjelasan terkait terjadinya pecah kaca itu saat dijalan dilempar seseorang, seyogyanya melaporkan dan meminta surat keterangan dari Kepolisian setempat.

Nantinya supaya Polisi bisa berjaga di tempat rawan pelemparan tersebut. Sedangkan, surat keterangan itu
juga bisa sebagai bukti saat masuk terminal bahwa pecahnya kaca tersebut ketika berada di jalan.

"Kalau pecah kaca itu pasti kami tilang karena termasuk kategori tidak layak jalan," terangnya.

Masih kata Emmy kejadian pecah kaca bus penumpang di wilayahnya minim terjadi lantaran jalan raya masih berada di ara perkotaan. Menurutnya, potensi pecah kaca itu terjadi di daerah Jombang ke barat Nganjuk, Madiun dan sekitarnya.

"Mungkin yang melempar itu pengendara motor merasa jalannya dipepet atau sopir bus yang ugal-ugalan," ucapnya.

Ditambahkannya, kegiatan Ramchek kendaraan ini telah dilakukan di Terminal Kertajaya Mojokerto selama 24 jam setiap hari.

"Kegiatan ini berlangsung mulai Januari 2017 semenjak terminal tipe B ini dikelolah oleh Dishub Provinsi Jatim," tegasnya. (Surya/Mohammad Romadoni)

Penulis: Mohammad Romadoni
Editor: Mujib Anwar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved