Pilgub Jatim 2018

Khofifah Dorong Teknologi Pertanian Ciptakan Varietas Kedelai Unggul untuk Produksi Tempe di Jatim

Calon gubernur Jawa Timur nomor urut 1 Khofifah Indar Parawansa bertekad untuk mendorong pengembangan teknologi pertanian

Khofifah Dorong Teknologi Pertanian Ciptakan Varietas Kedelai Unggul untuk Produksi Tempe di Jatim
SURYA/FATIMATUZ ZAHROH
Cagub Khofifah saat blusukan ke Pasar Wonorejo, Pandaan, Kabupaten Pasuruan, Selasa (5/6/2018). 

TRIBUNJATIM.COM, PASURUAN - Calon gubernur Jawa Timur nomor urut 1 Khofifah Indar Parawansa bertekad untuk mendorong pengembangan teknologi pertanian dan produksi kedelai variestas unggul.

Hal ini menyusul pengrajin tempe Desa Pare Rejo Purwodadi Kabuaten Pasuruan Jawa Timur hampir seluruhnya menggunakan bahan kedelai impor. Padahal tempe adalah makanan khas nusantara yang banyak dikembangkan di Jawa Timur namun ternyata harus menggunakan bahan baku kedelai dari luar negeri.

"Jadi mereka menggunakan kedelai impor karena kalau menggunakan kedelai lokal, tidak mekar. Sedangkan kalau menggunakan kedelai impor itu harganya terus mahal," ucap Khofifah, usai kelieling kampung tempe Pare Rejo, Selasa (5/6/2018).

Baca: Sindiran Ashanty Tentang Keharmonisan Keluarga Raffi Ahmad dan Nagita Slavina, Singkat Tapi Menohok!

Untuk satu kilogram kedelai impor saja harganya sudah Rp 8000. Padahal harga penjualan kotor kedelai satu kilogram saja hanya Rp 10.000 saja.

Oleh sebab itu Khofifah mengajak perguruan tinggi yang memiliki fakultas pertanian untuk ikut bergandengan melakukan pendampingan guna menciptakan varietas kedelai kualitas sekelas impor namun dikembangkan olek petani kedelai lokal.

"Ini sangat potensial. Di kampung ini, ada 200 KK yang masuk dalam paguyuban perajin tempe. Satu rumah saja, bisa memproduksi tempe dengan menggunakan 2 sampai 5 kuintal kedelai dalam satu hari, tapi yang digunakan adalah impor," ucapnya.

Lebih lanjut, Khofifah menegaskan bahwa ada banyak faktor yang bisa jadi penyebab mengapa Indonesia tidak bisa menenam kedelai seperti jenis kedelai impor yang digunakan perajin tempe. Seperti kontur tanahnya tidak sesuai, atau juga metode pertaniannya yang berbeda dengan kondisi tanah di Indonesia.

Baca: Polres Jombang Ciduk 20 Cewek Penjaja Kopi Pangku di Pasar Mojoagung

"Teknologi ertanian kita sangat mungkin untuk memajukan pertanian Jawa Timur khususnya untuk kedelai. Sehingga petani kedelai kita juga berjaya," kata Khofifah.

Sementara itu, Ketua Paguyuban Kampung Tempe Muhammad Irvan mengatakan bahwa ada sejumlah kendala mengapa kedelai lokal tidak digunakan sebagai bahan produksi tempe di Desa Rejo Purwodadi Kabupaten Pasuruan memang karena kedelai lokal kurang bisa menghasilkan tempe yang mekar.

"Memang dari segi rasa, enak kedelai lokal. Tapi dia tidak bisa mekar dan mesin penggilingnya sudah diset untuk ukuran kedelai impor," katanya.

Baca: Polres Kediri Kota Gerebek Rumah Yang Produksi Miras Vodka Palsu

Kendala yang kedua disampaikan Irvan adalah masalah air. Ia mengakatakan bahwa sat kemarau, air di kampung tempe ini terbilang susah. Sehingga ia berharap distribusi air di kampung tempe bisa lebih baik ke depannya.

Dengan komitmen Khofifah yang ingin menyejahterakan para perajin tempe, maka ia berharap Khofifah bisa dilantik jadi gubernur berikutnya.

"Harapan kami ibu Khofifah bisa menang dan bisa memperbaiki nasib para perajin tempe di kampung ini. Dan bisa menjadi desa wisata," kata Irvan. (Surya/Fatimatuz zahroh)

Penulis: Fatimatuz Zahroh
Editor: Yoni Iskandar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help