Mabes Polri Gerebek Gudang Impor Garam di Gresik

Gudang garam yang digerebek Polisi yakni di Jalan Raya Manyar Desa Banyuwangi, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik

Mabes Polri Gerebek Gudang Impor Garam di Gresik
(surya/Sugiyono)
Kombes Pol Daniel Bolly Hyronimus Tifaona Wakil Direktur Tindak Pidana ekonomi dan khusus bareskrim Polri (baju corak putih), menunjukkan garam impor dari Australia dan India, di gudang PT MTS, Desa Banyuwangi Kecamatan Manyar, Rabu (6/6/2018). 

 TRIBUNJATIM.COM, GRESIK - Mabes Polri menggelar hasil ungkap dugaan penyalahgunaan garam industri menjadi garam konsumsi.

Gudang garam yang digerebek Polisi yakni di Jalan Raya Manyar Desa Banyuwangi, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik dan pabrik pengemasan garam di Jalan Mayjend Sungkono Kelurahan Gulomantung, Kecamatan Kebomas Gresik.

Kombes Pol Daniel Bolly Hyronimus Tifaona Wakil Direktur Tindak Pidana ekonomi dan khusus Bareskrim Polri mengatakan, terungkapnya kasus penyalahgunaan wewenang impor garam industri menjadi garam konsumsi ini setelah ada laporan dari masyarakat bahwa ada penyalahgunaan wewenang. Yaitu penyalahgunaan garam industri menjadi garam konsumsi.

Penggrebekan importir garam industri dari India dan Australia dikelola PT Mitra Tunggal Swakarsa (MTS) di Desa Banyuwangi Kecamatan Manyar.

Impor garam seharusnya digunakan untuk industri. Sebab, kandungan NACL diatas 97 persen itu untuk industri. Sedangkan, garam konsumsi kandungan NACL 94 persen untuk konsumsi rumah tangga.

Dari PT MTS, garam curah itu dijual ke PT Garindo Sejahtera Abadi (GSA) di Kelurahan Gulomantung Kecamatan Kebomas. Dari PT GSA diproduksi menjadi garam kemasan, masing-masing kemasan ada yang 250 gram dengan merk Garam Indonesia dan ada yang 175 gram merk Gadjah tunggal.

"Dari terungkapnya kasus penyalahgunaan garam impor ini berhasil diamankan dua orang tersangka yaitu KAG direktur PT MTS dan MA direktur PT GSA," kata Daniel Bolly Hyronimus Tifaona, dengan didampingi tim dari Polda dan Polres Gresik, Rabu (6/6/2018).

Dari ungkap penyalahgunaan izin impor garam itu, diamankan sebanyak 40.000 ton garam di gunung PT MTS, Jalan Raya Manyar Desa Banyuwangi Kecamatan Manyar.

Sedangkan di pabrik PT GSA diamankan barang bukti 10.000 ton garam kemasan siap edar di pasaran, serta 290 sak garam siap dikemas menjadi garam konsumsi.

Atas perbuatannya, kedua tersangka dijerat pasal 120 ayat (1) juncto pasal 53 ayat (1) huruf b undang-undang nomor 3 tahun 2014 tentang perindustrian. Pasal lainnya yaitu Pasal 144 juncto pasal 147 Undang-undang nomor 18 tahun 2012 tentang pangan.

Keduanya juga dijerat Pasal 62 juncto Pasal 8 ayat (1), Undang-undang nomor 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen dan atau pasal 2 atau pasal 3 Undang-undang nomor 20 tahun 2001 tentang perubahan atas undang-undang nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi dan atau pasal 3 Undang-undang nomor 8 tahun 2010 tentang tindak pidana pencucian uang (TPPU) juncto pasal 55 dan pasal 56 Kitab Undang-undang hukum pidana (KUHP).

Dari terungkapnya penyalahgunaan wewenang impor itu, Mabes Polri masih akan mengembangkan kasus tersebut sehingga tidak sampai terulang kembali aksi kejahatan tersebut.
Sebab, kejahatan pengemasan garam industri menjadi garam konsumsi yang dirugikan adalah masyarakat Indonesia.

Okeh karena itu, Forum petani garam Madura (FPGM), mendukung tindakan polri yang memberantas penyalahgunaan garam. "Dengan disalahgunakan garam industri menjadi garam konsumsi, petani garam di Madura dan daerah lainnya dirugikan. Harga garam lokal menjadi rendah dan tidak terserap oleh industri dan pemerintah," kata Muhammad Yanto, Sekretaris FPGM saat unjuk rasa memberikan dukungan kinerja Polri memberatas mafia garam. (Surya/Sugiyono).

Penulis: Sugiyono
Editor: Yoni Iskandar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help