Olahan Buah Naga hingga Kelor di Kompetisi Startup Pertanian Banyuwangi

Pemkab Banyuwangi menggelar kompetisi usaha rintisan pertanian (Agribusiness Startup Competition).

Olahan Buah Naga hingga Kelor di Kompetisi Startup Pertanian Banyuwangi
Surya/Haorrahman
Grand final (Agribusiness Startup Competition), menampilkan berbagai karya olahan pertanian. 

 TRIBUNJATIM.COM, BANYUWANGI - Pemkab Banyuwangi menggelar kompetisi usaha rintisan pertanian (Agribusiness Startup Competition). Kompetisi ini diikuti lebih dari 300 anak muda dalam 140 tim.

Babak final digelar, Sabtu (30/6/2018), dengan presentasi akhir oleh 30 finalis. Profil bisnis, rencana pengembangan usaha, pemasaran, dan prototipe produk dipresentasikan ke juri dari kalangan praktisi pertanian sukses dan akademisi.

”Ini inovasi untuk menjaring anak-anak muda agar mau terjun ke bisnis pertanian. Kami ingin tunjukkan bisnis pertanian punya prospek cerah dan layak jadi sandaran hidup,” ujar Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas.

Anas mengatakan, regenerasi petani adalah isu penting pertanian Indonesia. Berdasarkan Sensus Pertanian BPS, 61 persen petani berusia lebih dari 45 tahun, serta 72 persen berpendidikan SD. Jumlah rumah tangga petani terus menurun dari 79,5 juta (2008) menjadi 63,6 juta (2013).

Baca: Tuntutan Hidup, Pesinetron Ini Pernah Jadi Perias Mayat dan Jual Sembako, Begini Nasibnya Kini

”Maka kami perlu cara kreatif untuk melahirkan generasi muda petani yang inovatif, visioner, melek teknologi. Agribusiness Startup Competition hanya salah satu cara mendekatkan bisnis pertanian ke anak muda,” ujar Anas.

”Ke depan, kami perbesar skalanya dengan melibatkan perbankan. Kalau sekarang baru Rp100 juta, ke depan ada hadiah modal lebih besar untuk anak-anak muda pegiat pertanian. Manajemennya juga didampingi agar bisnisnya matang,” kata bupati 44 tahun itu.

Bisnis yang disajikan ratusan peserta ajang ini bermacam-macam, mulai olahan buah naga, olahan sayur kelor, pupuk organik, olahan peternakan-perikanan, hingga bunga.

Istivada, misalnya, menggarap usaha olahan sayur kelor bergizi tinggi untuk pembentukan kalsium tubuh.

"Di Banyuwangi, kelor melimpah, hampir semua halaman rumah bisa ditanami kelor. Saya ingin mengolahnya menjadi beragam varian, seperti snack bar, teh, dan kukis kelor,” tutur perempuan asal Banyuwangi lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) tersebut.

Mengerjakan proyek ini, Istivada menggandeng tiga temannya.

Baca: Jadwal Siaran Piala Dunia 30 Juni - 1 Juli 2018, Perancis vs Argentina Buka Babak 16 Besar

“Kami tidak ingin mencari pekerjaan, tapi berbisnis sendiri. Bekal ilmu selama kuliah kami gunakan untuk menggrap produk-produk pertanian lokal yang potensial," jelasnya.

Finalis lainnya adalah Deny Setiawan bareng empat kawannya. Dia mengusung merek ”Pored” yang mengolah buah naga menjadi beragam produk, mulai lulur, lip balm, selai, sirup, hingga minuman instan siap seduh.

“Saat ini kami memasarkannya lewat online. Dengan ikut kompetisi ini, semoga produk kami lebih dikenal sekaligus difasilitasi pengurusan legalitas produknya,” kata anak muda Banyuwangi lulusan Fakultas Pertanian Universitas Jember ini.

Ada pula Dadang Setiawan, anak muda dari Kecamatan Srono yang menggarap olahan ikan gurame.

“Kebetulan daerah kami adalah sentra ikan gurame. Terpikirlah untuk membuat olahan gurame,” ujarnya. (haorrahman)

Penulis: Haorrahman
Editor: Yoni Iskandar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help