Peningkatan Produksi Gas Industri Masih Belum Diimbangi Pertumbuhan Konsumsi

Produksi gas industri di Indonesia mengalami pertumbuhan yang signifikan, yakni mencapai 300 persen dalam delapan tahun terakhir.

Peningkatan Produksi Gas Industri Masih Belum Diimbangi Pertumbuhan Konsumsi
Dok PGN/Tribun Medan
Ilustrasi 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Arie Noer Rachmawati

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Produksi gas industri di Indonesia mengalami pertumbuhan yang signifikan, yakni mencapai 300 persen dalam delapan tahun terakhir.

Hingga kini, kapasitas produksi gas industri di Indonesia sudah mencapai 2,4 miliar Nm3 per tahun atau meningkat dibanding tahun 2010 yang hanya 900 juta Nm3 per tahun.

Akan tetapi, peningkatan tersebut tidak diimbangi dengan pertumbuhan konsumsi oleh industri lainnya.

Baca: Beras Sachet 200 Gram Produksi Bulog Bisa Bertahan hingga Tiga Bulan

Ketua Umum Asosiasi Gas Industri Indonesia (AGII) Arief Harsono juga menjelaskan, satu di antara faktornya adalah akibat melesunya industri baja dalam negeri serta turunnya harga minyak mentah dunia hingga pada titik terendah.

"Maka dari itu, untuk meningkatkan konsumsi dan memaksimalkan penyerapan produk gas industri nasional, kami harus masuk ke daerah-daerah yang belum terjangkau suplai gas industrinya, terutama UKM," katanya melalui keterangan resminya, Jumat (6/7/2018).

Adapun penyerapan konsumsi gas industri, kata Arief, sekitar 70-80 persen dari total kapasitas produksi.

Baca: Mulai Didistribusikan, Beras Sachet Bulog Dihargai Rp 2.500, Bisa Beli di Pasar hinga Mini Market!

Sementara itu, lanjut Arief, kendala yang dihadapi oleh pengusaha gas industri untuk memperluas market cukup banyak.

"Antara lain, terdepresiasinya nilai mata uang Indonesia terhadap USD dalam waktu beberapa tahun terakhir yang menyebabkan mahalnya pengeluaran biaya modal, khususnya yang masih harus impor dari luar negeri," terangnya.

Selain itu, sulitnya perizinan membangun pabrik dan filling station membuat biaya ekonomi menjadi tinggi.

Tak hanya itu, lanjut Arief, mahalnya perpanjangan sertifikat Hak Guna Bangunan di atas HPL Kawasan Industri BUMN juga membuat biaya ekonomi tinggi.

Baca: Meski Sudah Ada CAT, Sekdaprov Jatim Ingin Tes Wawancara Masuk Tahapan Rekrutmen CPNS, Ini Alasannya

"Soal perizinan ini berbeda di setiap kota, ada yang sulit ada yang mudah. Kendala itulah yang menjadi pertimbangan investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia," tutupnya.

Yuk subscribe YouTube Channel TribunJatim.com

Penulis: Arie Noer Rachmawati
Editor: Dwi Prastika
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help