Seni dan Budaya Banyuwangi Semakin Berkembang Progresif

Kebudayaan jangan dimaknai secara sempit, hanya mengidentikkan dengan penyelenggaraan acara kesenian.

Seni dan Budaya Banyuwangi Semakin Berkembang Progresif
ISTIMEWA
Tari Remo Alap-Alap 

TRIBUNJATIM.COM, BANYUWANGI - Kebudayaan jangan dimaknai secara sempit, hanya mengidentikkan dengan penyelenggaraan acara kesenian.

“Kebudayaan harus dimaknai secara luas. Antara lain terkait dengan sistem, cara hidup, gagasan dan karya dari masyarakat,” ujar Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, kepada wartawan, usai membuka acara pergelaran Anugerah Duta Seni Budaya Jawa Timur, di Anjungan Jawa Timur, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Minggu (01/07/2018).

Salah satu upaya Pemerintah Kabupaten Banyuwangi melestarikan kebudayaan, antara lain ujar Anas, melibatkan para seniman pada kegiatan yang diselenggarakan Badan Penghubung Daerah (Bapenda), Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Melalui pendekatan kebudayaan, kata Azwar Anas, masyarakat dapat ikut terlibat dalam membangun daerahnya.

“Para generasi muda pecinta seni kami beri ruang dan panggung untuk menunjukkan potensinya. Mereka secara langsung ikut mengkreasikan program pengembangan daerahnya. Sehingga warga bisa ikut bersama-sama menciptakan karya yang bermanfaat,” ujarnya.

Di acara pergelaran Anugerah Duta Seni Budaya Jawa Timur ini, Banyuwangi menampilkan tiga kesenian tari; tari Remo Alap-Alap tari Candra Purnama dan sendratari Sholeh Semendi.

Tarian Klasik Asal Thailand Jadi Pembuka Pagelaran Festival International Panji di Denpasar )

Tari Remo Alap-Alap, merupakan tari ucapan selamat datang dan gambaran masyarakat Jawa Timur, yang lugas, trengginas (lincah), dan terbuka.

Tari Candra Purnama, menggambarkan keceriaan para gadis remaja pesisir timur Pasuruan, menikmati suasana bulan purnama dengan penuh suka cita, dan rasa syukur atas keindahan alam ciptaan-Nya.

Sementara Seni Drama Tari (Sendratari) Sholeh Semendi, bercerita tentang kisah penyebaran agama Islam pertama di Pasuruan, Jawa Timur yang dilakukan seorang ulama bernama Sholeh Semendi.

Salah satu warisan sejarah dari ulama ini adalah peninggalan Pondok Pesentren Sidogiri.

Halaman
123
Editor: Edwin Fajerial
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help