Gereja Tertua Se-Jatim di Jombang Ternyata Dibangun Keturunan Sultan Cakraadiningrat dari Bangkalan

bangunan gereja tertua di Jawa Timur adalah gedung GKJW (Greja Kristen Jawi Wetan) yang berlokasi di Mojowarno, Jombang.

Gereja Tertua Se-Jatim di Jombang Ternyata Dibangun Keturunan Sultan Cakraadiningrat dari Bangkalan
Surya/Sutono
Sultan Hamid dari Bangkalan, Madura, keturunan ke-4 Pangeran Cokrokusumo (putra Sultan Cakra Adiningrat II/Sultan Madura Barat awal abad 19), memainkan organ saat acara Halal Bihalal dan Reuni Trah Pangeran Cokrokusumo. 

 TRIBUNJATIM.COM, JOMBANG - Jamak diketahui, bangunan gereja tertua di Jawa Timur adalah gedung GKJW (Greja Kristen Jawi Wetan) yang berlokasi di Mojowarno, Jombang.

Namun siapa sangka, pendiri gereja tersebut adalah keturunan Sultan Cakraadiningrat II atau Sultan Bangkalan II, raja Madura Barat, awal abad 19.

Kesultanan Madura Barat sendiri berada dalam kekuasaan Kerjaan Mataram di bawah Sultan Agung.

Dikatakan keturunan Sultan Adiningraat II karena gereja tersebut dibangun Raden Paing Wiryoguno, anak dari Pangeran Cokrokusumo. Dan Cokrokusumo sendiri anak ke-7 dari Sultan Adiningrat II. Adiningrat II maupun Cokrokusumo beragama Islam.

Baca: Fernandinho Dapat Ancaman Pembunuhan usai Cetak Gol Bunuh Diri saat Perempat Final Piala Dunia 2018

Setidaknya itulah yang terungkap saat acara Halal Bihalal dan Reuni Akbar Perdana Trah Cokrokusumo di Aula GKJW, Mojowarno, Jombang, Minggu malam (8/7/2018).

Hadir 600 orang lebih dari 10 provinsi, termasuk Sultan Hamid, keturunan ke-4 Pangeran Cokrokusumo, datang dari Bangkalan, Madura.

Acara itu sendiri digelar selain untuk bersilaturahmi, juga juga mewarisi spirit Pangeran Cokrokusumo. Antara lain spirit rela berjuang demi masyarakat banyak dan spirit toleransi.

"Toleransi yang sangat kentara, keluarga besar Cokrokusumo ini menganut beragam agama, meskipun Pangeran Cokrokusumo sendiri Islam," kata Gardi Gazarin, panitia acara kepada Surya.

Diungkapkan, perjalanan Cokrokusumo, diteruskan anak-anaknya sampai di Mojowarno merupakan perjuangan panjang dan berliku. Cokrokusumo atau Abdurrasid Cokrokusumo, sambung Gardi, adalah putera Sultan Cokroadiningrat II dari selir, Ratu Kenoko.

Baca: Mulan Jameela ‘Nangis’ Tak Nonton Konser Celine Dion, Maia Estianty Beruntung Duduk di Kursi VIP


"Karena pergolakan politik kasultanan Bangkalan akibat adu domba Belanda awal abad 19, Cokrokusomo beserta istrinya (Bok Hanifah) dan 6 anaknya keluar dari Madura," kata Gardi Gazarin.

Mereka menuju Surabaya. Mulai kampung Dosermo, Jagir Wonokromo, Kedungturi, Taman dan akhirnya menetap di desa Bogem (sekarang wilayah Sukodono, Sidoarjo).

Cokrokusumo menyamar dengan ganti nama Kiai Mendhung. Untuk hidup, dia membeli perahu (jungkung) untuk mencari ikan dan bercocok tanam. Singkat cerita, karena kerja kerasnya, keluarga Cokrokusmo kaya raya.

Meski menjadi keluarga kaya, Kiai Mendung belum puas. Dia ingin memiliki tanah sendiri untuk kehidupan keturunannya yang lebih baik di kemudian hari.

Dia lantas mengutus dua dari enam anaknya, R Paing Wiryoguno dan R Samodin mencari hutan untuk dibuka. Namun belum kesampaian, Cokrokusumo meninggal.

Diantara anak-anak Cokrokusumo, Raden Paing yang menyukai ilmu-ilmu kesaktian, kanuragan dengan cara berguru dan bertapa, mendapatkan pesan agar mencari ilmu baru bernama 'musqab gaib'.

Paing lantas menemui tuan Coolen pemilik persil Ngoro, Mojokerto. Dari penjelasan Coolen, ilmu baru itu disebut 'Ngelmu Srani' (agama Nasrani). Paing pun menemui tokoh nasrani J Emde di Surabaya agar dia dan kerabat diperbolehkan menerima ilmu baru.

Baca: Bakal Digaji Rp 5 Miliar, Wasit La Liga Spanyol Jadi yang Paling Tajir di Dunia!

Paing Wiryoguno beserta sanak saudaranya akhirnya dibaptis pada 13 April 1844 oleh Pdt Van Meyer. Dalam permandian kudus ini, sambung Gardi, mereka diberi tambahan nama Kristen.

"Antara lain, Wiryoguno diberi tambahan nama Karolus, ibunya diberi nama Dorkas (jadi Dorkas Hanifah). Samodin diberi nama Simson," imbuh Gardi.

Setelah itu Karolis Wiryoguno dan kerbata serta teman-temannya membuka Hutan Keracil, wilayah Wirosobo (Mojoagung) dan Japan (Mojokerto).

Singkatnya, babat hutan pun dilakukan dibantu sahabatnya, Ditotruno dan Kunto. Setelah hutan dibuka, bagian tanah selatan disebut Mojowarno untuk Ditotruno dan kawan-kawan.

Baca: Wali Kota Surabaya Risma Terima Penghargaan Lee Kuan Yew, Kami Tak Punya Taman Sehijau di Surabaya

Kemudian bagian utara disebut Mojowangi untuk Kunto, sedang Karolus membuka hutan baru sebelah timur sungai Jiken dan diberi nama Mojoroto.

Begitulah, sehingga pada tahun 1848 berdiri tiga desa di atas hutan Keracil yaitu Mojowarno, Mojowangi dan Mojoroto. Pola kehidupan masyarakat saat itu masih sederhana dan belum terpengaruh budaya asing.

Budaya tolong-menolong (gotong-royong) dan rasa persaudaraan yang erat menciptakan suasana yang damai dan sejahtera. Karolus mengembangan desa-desa ini menjadi 63 desa. Gereja pun dibangun dan berdiri, sekitar 1880.

Kemudian pengembangan desa dilanjutkan anaknya, Bau Aris dengan tambahan 8 desa lagi di area pegunungan Wonosalam. Komunitas ini ternyata menjadi cikal bakal berdirinya desa Kristen di Jawa Timur.

Karena beberapa keluarga menyebar membuka hutan mendirikan desa baru dan dihuni oleh sesama keluarga atau kerabatnya. Mereka juga mendirikan gedung gereja untuk kehidupan rohaninya.

"Pada 11 Desember 1931 di Mojowarno, komunitas-komunitas Kristen di Jawa Timur ini menyatukan diri dalam wadah yang disebut 'Pasamuan Kristen Jawi ing Jawi Wetan' yang lalu jadi Greja Kristen Jawi Wetan," timpal Sultan Hamid.

Jadi, sambung Sultan Hamid, para pendiri pesamuan GKJW tidak dipungkiri adalah para keturunan, kerabat dan teman-teman dekat para perintis desa-desa Kristen ini.(Surya/Sutono)

Penulis: Sutono
Editor: Yoni Iskandar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help