Banjir Bandang Banyuwangi

Usai Diterjan Banjir Bandang, Lapan Lakukan Pemetaan ke Beberapa Daerah di Banyuwangi

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) datang ke Banyuwangi untuk lakukan pemetaan di beberapa wilayah.

Usai Diterjan Banjir Bandang, Lapan Lakukan Pemetaan ke Beberapa Daerah di Banyuwangi
Surya/Haorrahman
Tim Lapan saat lakukan pengambilan gambar di Banyuwangi. 

TRIBUNJATIM.COM, BANYUWANGI - Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) datang ke Banyuwangi untuk lakukan pemetaan di beberapa wilayah.

"Kami ke Banyuwangi untuk melakukan pemetaan di dua tempat," kata Atik Bintoro, Ketua Tim Pemantau Lapan, Selasa (10/7/2018).

Tim Lapan melakukan pemetaan di dua wilayah, Desa Jajag, Kecamatan Jajag, dan Alasmalang, Kecamatan Singojuruh.

Di dua desa ini, Lapan memetakan beberapa lokasi dengan pesawat drone mini. Di Desa Alasmalang, tim Lapan melakukan pemetaan kawasan fungsional, untuk mengambil sampel dan melihat lokasi terdampak banjir bandang beberapa waktu lalu.

Baca: 26 Desa di Tuban Dilanda Kesulitan Air Saat Musim Kemarau ini

Menurut Atik, dalam pengambilan pemetaan tersebut berupa gambar secara 3 dimensi (3D) dari udara di sepanjang jalur sungai yang dilewati banjir bandang.

“Dengan cara ini kami bisa memetakan perkiraan berapa kubik material lumpur, tumpukan pasir, dan air yang terbawa oleh banjir,” jelas Atik.

Atik menjelaskan, pemetaan menggunakan pesawat drone tersebut juga bisa digunakan sebagai bahan analisis terintegrasi bersama Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) apabila dibutuhkan.

“Apabila dibutuhkan untuk analisis integrasi bencana alam, kami siap bekerja sama dengan PVMBG,” katanya.

Di Desa Jajag, Kecamatan Gambiran, Lapan membantu melakukan pemetaan di Desa setempat. Lapan membantu Pemerintah Desa Jajag untuk mengambil foto udara di seluruh wilayahnya.

Lapan menerbangkan sebanyak 8 kali, dengan durasi sekali terbang 30 menit. Hasilnya kurang lebih terdapat 3000 foto yang diambil.

Baca: Pria Sidoarjo Tega Jual Istri untuk Layanan Spesial karena Faktor Ini. . .

Kepala Desa Jajag, Suparno mengatakan, pemotretan udara dilakukan untuk kepentingan perencanaan pembangunan tata ruang wilayah Desa Jajag. Termasuk juga mengetahui dan memetakan potensi kawasan Jajag.

Diharapkan, dengan menggunakan teknologi, kebijakan pembangunan yang diambil nantinya lebih tepat sasaran.

"Saat akan membangun kawasan industri misalnya, UMKM, atau parisiwata, kami tidak salah tata letak, sehingga kami bisa tahu daerah-daerah mana yang perlu pembangunan," katanya.

Baca: CJH Jatim Asal Situbondo, Bondowoso, Banyuwangi akan Berangkat di Kloter Pertama

Pihak Lapan mempersilahkan masyarakat atau instansi yang ingin mengundang Lapan untuk memetakan wilayahnya. Mekanismenya drngan mengirimkan undangan bersifat resmi dan melalui sejumlah prosedur yang harus dilewati. (Haorrahman)

Penulis: Haorrahman
Editor: Yoni Iskandar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help