16 Tahun Pasca Bom Bali, Leni dan Dua Anaknya Masih Terus Dihantui Trauma

Duka mendalam dan trauma tragegi bom Bali belasan tahun lalu masih terus menghantui wanita tangguh dan dua anaknya ini.

16 Tahun Pasca Bom Bali, Leni dan Dua Anaknya Masih Terus Dihantui Trauma
SURYA/PIPIT MAULIDIYA
Wayan Leniasih Korban Bom Bali 1 saat jadi narasumber di Short Course Penguatan Prespektif Korban dalam Peliputan Isu Terorisme bagi Insan Media, oleh Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Surabaya, Rabu (11/7/2018). 

"Dia takut kalau izin dipecat, karena suami saya bartender senior di Sari Club sementara yang lain masih baru," kata Lina menceritakan suaminya sudah bekerja di Sari Club selama lima tahun terakhir.

Pukul 21.00 WITA, Sukerna meminta air hangat, tak biasanya dia juga menciumi anak-anak Ni Luh Putu Richa Noviani dan I Made Wiratmaja yang saat itu berusia tiga tahun dan dua bulan. Tak lupa juga mencium istrinya, Lina.

Lina memang merasa Sukerna tidak seperti biasanya, namun dia diam saja dan tersenyum. Sebelum pergi bekerja, Sukerna berpesan kepada Lina untuk berhati-hati jangan sampai ada orang lain di antara mereka, serta perintah untuk menjaga anak-anak.

Baca: SW, Pria Pemberani yang Tembak Pelaku Teror Bom Pasuruan dengan Senapan Berburu

"Pukul 11.15 WITA saya tidur lelap, tiba-tiba ponsel berdering. Itu posel suami saya yang sengaja dia tinggal di rumah. Terdengar suara saudara kami bicara 'cepat hubungi suami, di Sari Club ada bom' bergitu katanya, saya panik," kata Lina sambil berusaha menginagt kembali masalalu yang sedih itu.

Lina mencoba menghubungi Sari Club, nada dering telepon aktif tapi tak ada yang mengangkat. Dia pun berusaha menelepon teman sang suami, terdengar juga nada dering namun lagi tak ada yang mengangkat telepon.

Dia berinisiatif membawa bayinya dua bulan untuk ke lokasi ledakan, mencari sang suami. Namun niatnya itu urung karena pemilik kos menghawatirkannya.

Sampai pukul 00.00 WITA tak ada kabar. Lina meminta bantuan teman-temannya untuk mencari suami di rumah sakit sambil membawa foto, namun tetap tak ketemu.

Baca: Dua Emak-emak Cekcok di Pasar Galis Bangkalan, Tiba-tiba Celurit Melayang

Tanggal 13 Oktober, satu hari pasca ledakan Lina pun disarankan tetangga dan keluarga mendatangi orang dengan kemampuan spiritual. Di sana dia mendapatkan jawaban, suaminya berada di dalam kantong kresek besar bersama korban Sari Club lainnya tanpa kepala dan tubuhnya hangus terbakar.

"Saat kami cari, ternyata betul. Kepalanya sudah tak ada, tinggal tubuhnya dari leher sampai kaki yang lengkap namun dalam kondisi terpanggang. Kami sempat kesulitan mengidentifikasi jenazah karena sebagian tubuh terbakar, tapi kami beruntung menemukan identitas korban di celana belakang, disana saya yakin dia suami saya meski saat itu KTPnya sudah berbentuk serpihan," terang Lina.

Kenyataan pahit itu membuat Lina syok, dia pun putus asa dan sedih. Lina mengaku bahkan tak mau memberikan asi kepada bayinya yang baru berusia 2 bulan. Jangankan menyusui menggendong pun Lina tak kuat.

Halaman
1234
Penulis: Pipit Maulidiya
Editor: Mujib Anwar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help