16 Tahun Pasca Bom Bali, Leni dan Dua Anaknya Masih Terus Dihantui Trauma

Duka mendalam dan trauma tragegi bom Bali belasan tahun lalu masih terus menghantui wanita tangguh dan dua anaknya ini.

16 Tahun Pasca Bom Bali, Leni dan Dua Anaknya Masih Terus Dihantui Trauma
SURYA/PIPIT MAULIDIYA
Wayan Leniasih Korban Bom Bali 1 saat jadi narasumber di Short Course Penguatan Prespektif Korban dalam Peliputan Isu Terorisme bagi Insan Media, oleh Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Surabaya, Rabu (11/7/2018). 

Dia hanya menitihkan air mata dan belum bisa percaya.

Baca: Gara-gara Tertarik Cerita di Group Sosmed, Pria ini Setahun Ketagihan Jual Istri yang Dicintainya

Dua Anak Terpukul

Lina mengaku bukan dia saja satu-satunya yang masih mengalami trauma atas kejadian itu. Dua anaknya yang kini sudah tumbuh dewasa pun mengalami trauma yang sama.

Uring-uringan, merasa ingin diberikan perhatian lebih, hingga merindukan sosok ayah.

"Saya menyadari jika saya tidak bangkit dan berjuang melanjutkan hidup, bagaimana nasib anak-anak saya nanti," kata Lina berpikir saat itu, setelah sempat trauma berat hingga tak mau bersolek hingga tahun 2005.

Sampai saat ini pun Lina sering membawa anak-anaknya mengunjungi psikolog untuk konsultasi. Ini pun membuktikan bagaimana orang-orang tidak berdosa pun menerima akibat dari bom tak bertanggung jawab itu.

Lina bangkit, dan menjadi seorang pengajar di sekolah taman anak-anak (TK) hingga saat ini. Dari sana dia menghidupi dua anaknya yang terus tumbuh dewasa.

Baca: Warga Perbatasan Dilarang Daftar, SMP Negeri Pinggiran di Mojokerto Kesulitan Dapatkan Siswa

Pemerintah Kurang Peduli

Lina mengaku tidak pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah Bali maupun Indonesia. Jika ada pun itu tak berlaku lama.

"Ada itu LPSK dari pemerintah cuma berjalan dua kali perjanjian saja setelah itu tak ada lagi kabarnya. Sudah 16 tahun saya pun belum merasakan bantuan pemerintah. Bukan hanya saya, ada puluhan teman-teman lain juga yang punya nasib sama sementara kami sendiri para perempuan belum bisa bekerja," katanya mengeluhkan perhatian pemerintah Bali dan Indonesia yang kurang tanggap.

Halaman
1234
Penulis: Pipit Maulidiya
Editor: Mujib Anwar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved