16 Tahun Pasca Bom Bali, Leni dan Dua Anaknya Masih Terus Dihantui Trauma

Duka mendalam dan trauma tragegi bom Bali belasan tahun lalu masih terus menghantui wanita tangguh dan dua anaknya ini.

16 Tahun Pasca Bom Bali, Leni dan Dua Anaknya Masih Terus Dihantui Trauma
SURYA/PIPIT MAULIDIYA
Wayan Leniasih Korban Bom Bali 1 saat jadi narasumber di Short Course Penguatan Prespektif Korban dalam Peliputan Isu Terorisme bagi Insan Media, oleh Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Surabaya, Rabu (11/7/2018). 

Lina mengaku dia hanya mendapatkan bantuan yang dihimpun dari sukarela para turis asing. Misalnya Yayasan Bali Hati, dia mendapatkan Rp 600 per bulan selama tiga sampai lima bulan saja. Dan bantuan dari YKIP untuk biaya sekolaj anak-anak gratis TK dan SD.

"Beberapa anggota DPR memang datang dan memberikan uang sekali, yang banyak dokumentasinya. Saya sudah adukan ke pemprov Bali, saya juga datang ke bupati yang waktu itu janji di atas kuburan suami saya akan memberikan bantuan, tapi ternyata tidak ada kelanjutan. Hanya ditulis-tulis saja nama, alamat, dan nomor telepon," kata Leni kecewa.

Baca: Kampung Hidroponik Selada Organik di Surabaya, Kantor dan Restoran Langsung Berebut Produknya

Lina berharap pemerintah mau memperhatikan nasib malang korban Bom Bali. Hingga saat ini Lina bingung mengurus Kartu Indonesia Pintar dan Kartu Indonesia Sehat untuk dia dan dua anaknya. Alasannya, Lina tak bisa mendapatkan dua kartu sakti itu karena tidak terdaftar sebagai warga miskin.

"Saya memang punya rumah, tapi itu kan rumah warisan keluarga. Apa saya harus jual rumah dulu dan jatuh miskin supaya dapat kartu sehat dan kartu pintar? Hasil kerja sebagai guru TK perbulan Rp 300 tentu tidak cukup, apalagi anak saya nomor satu sangat ingin melanjutkan kuliah. Untuk sementara ini memang saya kehilangan kepercayaan dengan pemerintah," tegasnya sedih. (Surya/Pipit Maulidiya)

Penulis: Pipit Maulidiya
Editor: Mujib Anwar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help